Emak-Emak, BEM SI dan Sebuah Penderitaan



Dulu ketika zaman kuliah, sempet kenal beberapa pimpinan aktivis BEM. Meskipun belum sempat nyemplung kesana, tapi menjadi jurnalis kampus membuat saya mengenal kegigihan mereka.
Beberapa diantara mereka, anak-anak BEM adalah anak-anak rohis (kerohanian Islam) yang juga aktif berdakwah di kampus. Kebanyakan mereka juga adalah para mahasiswa berprestasi atau dulu disebut mawapres.
Beberapa mereka memang anak Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, fakultas yang bersebelahan dengan fakultas saya, FIB. Tapi banyak diantara mereka malah bukan sama sekali anak politik, banyak yang justru dari jurusan MIPA.
Saya mengenal betapa mereka dididik untuk memikirkan orang lain. Sebenarnya justru bukan hanya dari para dosen. Melainkan dari keyaninan mereka, bahwa hidup itu bukan hanya tentang hidup. Melainkan tentang bagaimana kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Bergolak hati saya setelah suami menceritakan kabar terbaru mengenai mereka. Ya, aktivitas menjadi ibu memang membuat saya kadang kurang update.
Betapa mereka kini sedang berjuang atas nama rakyat Indonesia. Apa yang sedang mereka perjuangkan? Sebuah keadilan.

Hanya itu, satu kata yang kini telah mulai sulit untuk kita meraba-raba. Sebab rasanya sudah jarang sekali kita mendengar ada sosok pemimpin adil di negeri ini. Mungkin ada, tapi tak banyak.
Lalu siapa kebanyakan mereka para pemimpin negeri ini? Kebanyakan mereka adalah para pemimpin ......
Tak perlu saya jawab, toh para pembaca juga sudah bisa menebak akhir dari kalimat ini.
Mereka para pemimpin, mengapa kamu menulis tentang ini, mak? Bukankah haram membuka aib pemimpin?
Ya, benar sekali. Meski saya bukan seorang ahli agama, saya tahu betul, haram hukumnya membuka aib saudara kita, apalagi aib saudara seiman dan para ulama.
Tapi sebentar, izinkan saya bertanya. Kenapa di negeri ini, para ulama tidak hanya dibuka aibnya. Melainkan juga ditindas dan didzolimi? Bukankah para ulama’ adalah pewaris para Nabi?
Terakhir, yang saya denger ada seorang ulama yang akan dipolisikan karena mengatakan tentang wayang haram. Lalu segalanya berubah, logo halal berubah, dan segalanya berubah makin runyam, rumit.
Ya, benar, sepakat bahwa tidak ada demokrasi dalam Islam. Tapi saya memang bukan ahli agama yang berkompeten membahas tentang siapa yang halal darahnya, mereka yang sedang berjuang atau yang selalu dzolim.
Mungkin, saya hanya bisa mengutip pesan Rasul, berkatalah yang baik atau diam.
"Barang siapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam" (Muttafaqun ‘alaih)

Jika memang kau belum bisa berjuang membantu kebaikan negeri ini, TOLONG DIAM. Jangan memperkeruh suasana. Sebab yang saya pahami, semua amal dan perbuatan akan dipertanggung jawabkan di akhirat.
Jika engkau memang ingin kebaikan untuk negeri ini. Tolong angkat tanganmu. Tolong doakan siapapun yang berjuang untuk kebaikan negeri ini, mumpung ini adalah bulan termulia. Jangan sampai hukuman Allah juga terdampak pada orang-orang baik.
Disebabkan karena bodohnya mereka yang berkhianat pada bangsa dan negara ini. Jangan sampai Allah marah pada kita. Karena kita seringkali bukannya berdoa, malah nyinyir.

Oleh Nabila Cahya Haqi,
cuma emak yang nyambi jadi blogger

No comments:

Post a Comment

@nabila_haqi