Agar Tidak Pikun di Usia Tua

Mencegah pikun
Sumber: Pixabay 

Meski masih tergolong muda, saya seringkali lupa atas suatu hal. Lupa dimana menaruh barang, lupa diberi tugas oleh suami, lupa matikan air, hingga paling sering lupa rakaat sholat.


Bahkan saya kadang lupa saat sedang memasak sesuatu, misalnya lupa saat memanaskan sayur hingga airnya habis.


Parahnya lagi, pernah lupa menggoreng sesuatu hingga apinya naik ke kompor. Bersyukur Allah menolong hingga tidak terjadi kebakaran.


Saya sampai khawatir apakah saya terkena terkena penyakit pikun layaknya orang lanjut usia.


Alhamdulillah kekhawatiran saya terjawab setelah mengikuti sebuah webinar yang bertajuk penyakit pikun ini. Acara ini bernama Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia yang digelar secara online di Zoom dan live Youtube pada Minggu, 20 September lalu.


Acara ini menjadi bagian dari program kampanye edukatif #ObatiPikun. Festival edukatif ini diadakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (Perdossi) dan PT Eisai Indonesia (PTEI).


Resmi dibuka  oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan (Kemenkes)  dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS.


Acara ini sebagian besar diikuti oleh tenaga medis. Jadi seneng rasanya bisa satu forum bersama para ahli medis dan para expert.


Meskipun mengikuti webinar saat berada di perjalanan dan mendapat banyak gangguan, alhamdulillah saya bisa mendapatkan ilmu baru yang belum pernah saya pelajari sebelumnya


Mengenal Dimensi Alzheimer atau Pikun

Penyakit pikun dalam dunia medis disebut ini bernama demensia alzheimer. 


Demensia sendiri adalah suatu sindrom gangguan penurunan fungsi otak. Penyakit ini dapat menurunkan fungsi kognitif, emosi, daya ingat. Serta mengubah perilaku, dan aktivitas sehari-hari manusia.


Kita sering menganggap penyakit pikun ini wajar terjadi pada lansia. Padahal harusnya penyakit ini harus dicegah dan bisa diobati.


Berdasarkan data dari WHO dan Alzheimer’s Disease International dan WHO, lebih dari 50 juta orang di dunia terkena demensia.


Terdapat lebih dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Dari banyaknya kasus tersebut, alzheimer menyumbang presentasi terbesar yakni sebanyak 60-70% kasus.


Kabar buruknya lagi, penyakit ini tidak hanya terjadi ada kaum lansia. Masyarakat yang tergolong muda juga berpotensi terkena syndrom ini.


Cara Mencegah Pikun

Oleh karena itu, kita harus mencegah penyakit pikun ini sejak dini. Beberapa cara mencegahnya adalah sebagai berikut. 

1. Menstimulasi otak agar terus bekerja

Cara ini sudah sering kita dengar, bukan? Pikun terjadi saat fungsi otak menurun. Sehingga otak harus kita stimulus agar terus bekerja dan tidak menurun kinerjanya.


Dengan apa stimulasinya? Kita bisa membaca buku, mengikuti seminar atau acara-acara edukatif, hingga menulis.

2. Konsumsi sayur, buah dan makanan bergizi

Kualitas hidup kita bergantung pada apa yang kita makan. Penyakit pikun bisa kita cegah dengan menjaga menutrisi otak, yakni rutin mengonsumsi makanan bergizi. Kita juga harus menjaga tubuh dari racun-racun yang bisa merusak kinerja otak. Hayo, siapa yang masih suka micin secara berlebihan?

3. Olahraga, bergerak dan tetap produktif

Kita sering melihat banyak para orang tua yang tetap sehat dan tidak pikun karena rajin berolahraga tiap pagi. Ternyata olahraga tidak hanya akan membuat badan sehat, tapi membuat otak juga akan terus bekerja dengan baik.


Saya rasanya ketampar karena masih malas berolahraga, duh.


Aplikasi E-Memory Screening (EMS) untuk Screening Demensia

Dalam forum ini juga diperkenalkan sebuah aplikasi yang bisa digunakan untuk deteksi dini dimensia alzheimer, yakni E-Memory Screening (EMS).


Dokter bisa menggunakan aplikasi ini untuk screening awal pasien dengan gejala alzheimer.


Tak hanya dokter, masyarakat awam juga bisa menggunakan aplikasi ini untuk orang tua, kerabat atau orang terdekat lainnya yang terkena gejala dimensia alzheimer ini.


Setelah acara ini, diharapkan kita semua semakin aware atas permasalahan alzheimer ini. 


Saatnya kita ikut andil menyelamatkan diri dan orang terdekat dari dimensi alzheimer.

No comments:

Post a Comment

@nabila_haqi