Jurnal Pertama Seorang Ibu Baru

‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)


Selamat datang di jurnal pertama saya sebagai seorang ibu baru. Disini saya akan belajar untuk melukis pola hidup yang baik seorang ibu.

Tugas para ibu, termasuk saya  adalah menemukan semua pola aktivitas harian dan membaginya. Mana yang saya suka dan bisa, mana yang suka dan tidak bisa, tidak suka dan bisa, dan juga yang tidak suka dan tidak bisa. 

Semoga dengan tulisan ini para pembaca, dan terkhusus saya sendiri, menemukan bintang dan kekuatan untuk meningkatkan kualitas diri. 





Berbagai Aktivitas Harian

Tugas pertama ini adalah menemukan kelebihan. Khususnya dalam aktivitas sederhana saya sebagai ibu rumah tangga.

Bismillah.

Saya akan mulai dengan menjabarkan aktivitas ideal yang harus saya lakukan sejak bangun tidur hingga tidur lagi. 

03.00-11.00

- Ibadah sunnah dan sholat subuh 

- Mandikan dedek bayi, menjemur dan mengasihi

- Sarapan 

- Memulai tugas rumah tangga sebisanya (memasak, cuci baju atau bersih-bersih) 

11.00-14.00

- Qailulah, mengASIhi dan beristirahat 

14.00-18.00

- Memandikan bayi

- Melanjutkan tugas rumahnya tangga (bersih-bersih, melipat atau setrika baju) 

18.00-21.00

- Bercengkrama dengan suami 

- Belajar lewat YouTube atau aplikasi

- Update blog dan sosial media

- Istirahat 


Dari beragam aktivitas ini, izinkan saya membaginya dalam 4 kuadran. Kuadran ini digunakan untuk memetakan mana kekuatan dan kelemahan saya. 


Aktivitas yang Bisa Suka


Kekuatan seorang ibu atau calon ibu ada pada kuadran pertama, yakni aktivitas yang bisa dan suka.

Berikut aktivitas yang selain mudah dan mampu saya lakukan, juga mampu membuat mata saya berbinar saat melakukannya.

1. Ngeblog dan optimasi sosmed


2. Merawat dan bermain dengan bayi
(Mandikan, jemur, mengaASIhi dll)

3. Ibadah sunnah harian

4. Clothes caring
(cuci baju-setrika)

5. Travelling

Aktivitas yang Bisa, namun Tidak Suka


Sedangkan kuadran kedua dan seterusnya adalah aktivitas dimana para ibu dan calon ibu tidak akan berbintang jika menghabiskan terlalu banyak waktu di dalamnya.

Sehingga perlu adanya strategi untuk aktivitas aktivitas di kuadran ini. Jika memang aktivitas itu penting dan urgent, maka bisa kita delegasikan. 

1. Memasak
(karena belum terbisa masak dengan cepat dan enak)

Tidak Bisa dan Suka

1. Bikin masakan lezat dan bergizi tiap hari

2. Foto produk dan bikin feed Instagram yang keren

3. Memasak masakan keren dan difoto dengan keren 
(karena belum terbisa masak dengan cepat dan enak)

Tidak Bisa dan Tidak Suka

Khusus kuadran ini, sebab saya tidak berhasil menemukannya. Maka harus sebisa aktivitas berikut ditinggalkan. 

1. Ngobrol ngalur ngidul bareng tetangga hingga berujung ghibah (Na'udzubillah) 

Saatnya Melacak Kekuatan

Setelah membagi aktivitas menjadi 4 bagian, kini saatnya melacak kekuatan. Berawal dari aktivitas bisa dan suka, kita bisa menemukan misi besar keluarga dan anak-anak yang ingin kita lukis. Inilah visi yang harus terus saya ikhtiarkan dalam usaha dan doa. 

1. Mengadakan Homeschooling dan kelas-kelas di rumah bareng anak

2. Bisa punya rumah sendiri, desain exterior dan interiornya dari saya sendiri

3. Belajar hal baru dan belanja gagasan bersama anak lewat travelling

4. Jadi ibu yang sholihah dan lahir anak yang sholih dan ahli ilmu

5. Jadi ibu yang sholihah dan lahir anak yang sholih dan ahli ilmu


Anak: Amanah yang kita ambil dengan sadar




Menjadi ibu adalah gelar terindah bagi semua wanita di dunia ini. Ada yang mendapatkan dengan mudah (dan bahkan tanpa meminta), ada juga yang hingga hari ini harus mengulang doa agar Allah sematkan gelar itu.

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Anak adalah amanah yang telah kita ambil dengan sadar, maka tugas kita adalah menjaganya. Begitu kira-kira pesan pertama dari Bu Septi, rektor Institut Ibu Profesional, di Kelas Bunda Cekatan yang saya ikuti. 

Tidak perlu banyak teori sehingga kita menuntut diri untuk jadi ibu yang sempurna. Cukupkan dulu untuk menjadi ibu yang bahagia, karena 

Semoga jurnal sederhana ini menjadi salah satu ikhtiar untuk menemukan kebahagiaan. Apalagi bagi saya yang harus berjuang dalam beradaptasi menjadi ibu baru. 

Kepada para sahabat yang telah berkenan membaca jurnal sederhana ini,

Semoga Allah senantiasa membersamai langkah kita. Terima kasih telah hadir dalam kebahagiaan sederhana saya, bersahabat dengan pembaca dalam tulisan dan menginspirasi. Bertemu dalam tulisan, semoga Allah jadikan kita bertetangga di surgaNya. Aamiiiin Ya Rabbal 'alamin. 

#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional



Sumber hadits:

https://muslimah.or.id/1861-ibumu-kemudian-ibumu-kemudian-ibumu.html






No comments:

Post a Comment

@nabila_haqi