Pengaruh Media Digital pada Fitrah Seksualitas Anak

Alhamdulillah ini adalah hari ke-7 belajar dari diskusi kelompok Kelas Bunda Sayang. Jika kemarin-kemarin saya menulis asal-asalan di media sosial, hari ini saya #niat, jadi saya nulis di blog.

Hari ini spesial karena kelompok saya yang akan mempresentasikan hasil diskusi.

Kelompok saya mendapat tema: Pengaruh Media Digital pada Fitrah Seksualitas Anak. Sedang tugas saya adalah membuatkan slide power point.

 

Media digital yang dalam hal ini sering diwakilkan oleh gadget atau gawai. Gawai ini memang tidak bisa lepas dari kehidupan kita dan keluarga, termasuk juga anak-anak.

Dampak Negatif Media Digital: Less Activity 

Saat melihat anak-anak yang mulai kecanduan gawai, kita semua hanya bisa sedih. Apalagi sering kita lihat di sosmed orang tua membohongi anaknya dengan mendandani mata anaknya noda hitam saat tidur.

Bagaimana para orang tua tidak geram, mulai bangun tidur hingga akan berangkat sekolah, pekerjaan anak-anak hanya bermain dengan gadgetnya. Kemudian lanjut lagi pulang sekolah dan menjelang tidur.

Memberi Batasan Bermain Gadget 

Diskusi dimulai dengan mencari referensi, semua anggota diwajibkan cari. Saya dapat beberapa dari teman di sosial media.

Salah satunya adalah batasan bermain gadget menurut usia menurut rekomendasi dari American Academy of Pediatrics.

Menurut rekomendasi ini, anak usia dibawah 2 tahun tidak boleh sama sekali bermain gadget. Sedangkan anak usia 2-5 tahun, hanya diperbolehkan 1 jam dalam sehari, itupun harus dicicil, tidak langsung satu jam sekali main. Syarat lainnya di usia ini anak harus ditemani saat bermain.

Tapi saya masih kurang setuju dengan rekomendasi ini. Karena pada praktiknya, anak yang sudah tahu betapa menariknya gawai mereka, merasa kurang jika hanya 1 jam. Mereka akan menangis, berteriak, bahkan mengancam untuk tidak makan jika diberi waktu lebih untuk bermain gadgetnya.

Saya dan suami berencana untuk tidak membebaskan anak bermain gawai hingga mereka memasuki usia taklif atau masa dimana mereka sudah mampu membedakan mana yang baik dan benar.

Membangun Benteng Pertama: Menamakan Tauhid 


Kita tidak akan pernah khawatir memberi apapun kepada anak kita, termasuk gadget, jika mereka sudah punya tameng.

Tauhid adalah benteng perlindungan yang akan menjaga kita dari pengaruh buruk gadget.

Pelajaran tentang tauhid ini bisa kita ambil dari surat Lukman tentang nasihat Lukman pada anaknya.

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar."
(QS. Luqman 31: Ayat 13)

Dengan selalu menanamkan tauhid dan pendidikan agama, akan tumbuh tanggung jawab pada diri anak. Ia sudah mampu untuk memilah mana yang harus ia tonton dan mana harus ia hindari.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam mendidik anak-anak kita. Karena tanpa pertolongan Allah, semua ilmu dan effort kita akan sia-sia. Wa'allahu a'lam.

#Bunsaylevel11
#Fitrahseksualitas
#kuliahbundasayangIIP

Comments

  1. Dengan menanamkan tauhid dan pendidikan agama, akan tumbuh tanggung jawab pada diri anak. Sehingga mereka akan mampu untuk memilah mana yang harus ditonton dan mana harus dihindari.
    Terima kasih sudah mengingatkan tentang ini Mbak
    Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam mendidik anak-anak kita.Aamiin

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah terima kasih atas remindernya mbaa, masih sering biarin si kecil kelamaan megang gadget

    ReplyDelete
  3. Saya setuju untuk membatasi gawai terutama untuk anak yang belum paham betul manfaat gawai. Jika kita berikan diwaktu yang tidak tepat lalu si anak kecanduan yang ada tambah susah menyembuhkannya. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita dalam mandidik anak2.

    ReplyDelete
  4. Menanamkan pondasi agama kepada anak-anak menjadi yang utama ya, jadi teringat waktu daku kecil pun diajarkan seperti itu yang jadi bermanfaat pas daku besar kini

    ReplyDelete
  5. Ah ya, setuju sekali dengan ulasan seperti ini. Gadget emang bikin anak jadi malas beraktivitas yaa. Mungkin bisa diawali dengan kreatifitas orang tua mengajak anak bergerak.

    ReplyDelete
  6. MashaAllah~
    Benar-benar menjadi seorang Ibu (orangtua) adalah amanah yang luar biasa dan akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat.

    ReplyDelete
  7. membentengi dengan Tauhid... good point, thanks for sharing mbak :)

    ReplyDelete
  8. Aku tipe ortu galak kalau anak main hape hahah, aku kasi sih tapi gak tiap hari dan batasi. Trus saat anak rewel aku gk biasakan kasi gadget sebagai solusi, biarin aja rewel dulu hehe.
    Pondasi agama penting banget emang kita tanamkan ke anak sedari kecil yaaa

    ReplyDelete
  9. Batasnya cuma sejam sehari tapi kenyataannya banyak orang tua yg bebasin megang gadget yaah, harus dikurangin ini demi kebaikan anak

    ReplyDelete
  10. Memang menanamkan tauhid pada anak akan menjadi pegangannya dalam menjalani hidupnya. Menjadi pedomannya dalam enentukan mana yang baik dan mana yang buruk untuk hidupnya. Thanks remindernya Mbak..

    ReplyDelete
  11. Menanamkan tauhid pada anak sejak dini itu penting sekali, apalagi dizaman seperti sekarang ini. Peran orang tua juga sangat berpengaruh, temani juga saat anak-anak sedang bermain gadget.

    ReplyDelete
  12. Menjadi orNgtua memang tak mudah. Tapi pemberian pemahaman tauhid sesuai fitrah harus zelalu dilakuka
    n

    ReplyDelete
  13. Susah banget memang kalau anak sudah kenalan sama gadget. Bisa sampai berantem buat nyuruh mereka stop nonton. Huhu

    ReplyDelete
  14. Kalo anak udah kenal namanya gadget ampun deh sampai lupa makan

    ReplyDelete
  15. Untuk urusan gadget, aku berkaca pada diri sendiri sih. Aku suka banget browsing atau main gadget. Yang penting tanggung jawabku selesai semua. Nah, aku juga mau memberlakukan itu sama anak ketika aku lihat dia sudah ready

    ReplyDelete
  16. Untuk nonton youtube , Chacha seminggu sekali selama 1 jam

    Wah ternyata harus di cicil ya nontonny

    ReplyDelete

Post a Comment