#6 Cara Nabi Mendidik Finansial pada Keluarganya


Akhirnya sampailah saya untuk menuliskan tentang sesuatu yang begitu istimewa, parenting ala Nabi. Tantangan terberatnya adalah topik pendidikan Nabi pada pendidikan finansial atau konsep rezeki dan keuangan.

Rasanya sungguh teramat tidak pantas saya menuliskan ini. Sebab masih sedikit ilmu yang saya miliki, dan masih miskin referensi yang saya baca. Tapi, sebab tulisan yang harus ditoreh, izinkan saya menulisannya.

Potret Keluarga Nabi, Cermin Keluarga Sempurna

Hari ini rasanya sulit untuk menemukan keluarga yang pas untuk dijadikan teladan. Tapi kita bisa melihat bahwa teladan terbaik adalah dari keluarga Nabi Muhammad. Beliau adalah suami terbaik pada istri-istri beliau, sekaligus seorang ayah terbaik untuk beberapa anak. Nabi memiliki tiga anak laki-laki dan empat anak perempuan. Rasul juga memiliki bebapa cucu yang berada di bawah pengasuhan beliau, Hasan dan Husein. Keluarga inilah yang telah Allah subhanahu wata’ala jamin kebersihan dan kesuciannya.  Mari kita lihat beberapa kisah yang bisa darinya bisa kita simpulkan bagaimana cara Nabi mendidik konsep finansial pada mereka.

Nabi Melarang Keluarganya Berorientasi Pada Dunia

Keluarga Nabi adalah potret keluarga yang terdiri dari manusia biasanya. Keluarga yang  juga tidak lepas dari onak dan duri. Keluarga yang juga pernah memiliki aib dan kekurangan. Hal inilah yang menjadikan keluarga Nabi masuk akal untuk dicontoh. Jika Nabi dan keluarganya adalah malaikat, tentu kita akan berkata, “mustahil kita mencontoh, sebab mereka adalah malaikat.”

Suatu kali pernah para istri meminta tambahan nafkah. Hal ini mungkin biasanya bagi kita pada istri yang sering meminta tambahan uang belanja. Tapi tidak bagi Nabi. Permintaan para istri ini membuat Nabi gelisah.

Akhirnya Allah menurunkan ayat, yakni pemberian pilihan bagi istri-istri Nabi. Apakah mereka mau Rasulullah memberikan mereka harta, tapi Nabi menceraikanya. Atau mereka memilih tetap bersama Nabi dengan taat dan patuh pada Allah dan RasulNya?

Akhirnya mereka semua memilih Allah dan RasulNya. Sejak saat itu merke tidak pernah meminta jatah tambahan nafkah, mereka ikhlas dan ridho pada apa yang diberikan oleh Nabi.
Darisini kita bisa belajar banyak tentang cara Nabi mengajarkan apa itu cerdas finansial. Ternyata konsep parenting Nabi tidak sama dengan parenting gaya barat yang mengajarkan hemat pangkal kaya. Atau mengajarkan mereka untuk bekerja keras untuk menjadi orang yang kaya harta. Tidak. Justru Nabi mengajarkan kita untuk hanya mencari akhirat.

Mengenalkan Konsep Halal Haram Sejak Usia Dini

Selain itu, Nabi juga mengajarkan konsep tentang halal dan haram, pada apa yang boleh kita mana dan mana yang tidak boleh. Tercermin dari sebuah kisah saat Nabi melarang Hasan, sang cucu untuk memakan kurma sedekah.

Al Hasan bin Ali rodhiallahu ‘anhuma mengambil sebiji kurma dari kurma shadaqah (zakat), kemudian ia memasukkannya ke dalam mulut (hendak memakannya) maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Kakh, kakh,’ agar ia mencampakkannya, kemudian beliau bersabda kepadanya, ‘Tidakkah engkau sadar bahwa kita tidak (halal) memakan shadaqah?’” (Muttafaqun ‘alaih)

Hal ini sudah saya singgung pada tulisan sebelumnya. Bisa teman-teman intip di tulisan part #2

Mari kita terus berusaha mencontoh teladan terbaik dari keluarga Nabi dan para sahabat. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk melangkah pada jalan kebenaran, yakni jalan orang-orang yang telah Allah anugerahi nikmat. Aaamiiin.

Comments