Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

iCan Course, Satu diantara 37+ Kisah Couplepreneur

Ada rasa yang seketika tercekat setelah membaca kalimat demi kalimat dalam buku ini. iCan Course menjadi satu diantara 37+ couplepreneur, berada di deretan pasangan pebisnis sukses lainnya. Perjuangan di jalan Allah memang tiada sedikitpun yang sia-sia. Meski menjalankan sociopreneur sungguh tidaklah mudah. Harus berani berkorban banyak hal. Harus siap rugi material.  iCan Course adalah perpaduan antara ilmu, dakwah dan perjuangan. Rasa yang tak bisa diungkap hanya dengan tulisan. Planningnya selama dua tahun sudah merambah dunia internasional. Kita akan membuat bisnis yang memungkinkan tiap orang Indonesia, khususnya para pemuda, melek Bahasa Inggris, hanya dengan gadget mereka. Itulah salah satu cuplikan kisah iCan Course dalam buku Couplepreneur. Kisah yang akan terus membuat saya bangkit saat akan menyerah. Sebab entah berapa puluh kali saya menyatakan pada suami untuk dihentikan saja kursus online Bahasa Inggris ini. iCan Course  adalah lembaga yang

Bunda Sinta dan Perempuan Palestina

Bunda Sinta Yudisia, begitu kami para aktivis kampus memanggil Beliau. Beliau sering hadir  di forum-forum keilmuan kami. Selalu bersedia jika diminta untuk sharing ilmu dan menjadi pembicara. Tidak pernah meminta bayaran atas ilmu yang beliau sampaikan, apalagi memasang tarif. Padahal beliau telah diundang di berbagai forum di luar negeri. Tak sebanding dengan forum-forum yang kami adakan. Itulah sebabnya kami menyayangi Bunda, seperti ibu kami sendiri. Satu kalimat yang pernah menohok kami dan kawan-kawan mahasiswa bahasa lainnya. "Anak FIB sudah seharusnya menulis buku." Tidak hanya itu, kami pernah beberapa kali mengantar beliau ke rumah. Kami ingat, betapa tawadhunya beliau, bersedia diantar hanya dengan sepeda motor. Padahal kami selalu horor saat membonceng siapapun. Maafkan kami Bunda. Setiap berkunjung ke rumah Bunda, kami belajar bagaimana keluarga Bunda Sinta, dan anak-anak Bunda yang sholih dan taat pada orang tua.. Salah satunya, "Nak,

Belajar jadi Hero dari Ibu

Siang itu saya pulang ke rumah kedua (rumah bapak dan ibu). Sama seperti hari-hari lain saat saya pulang, pemandangan pertama yang saya lihat adalah ibu yang sedang menemani tamu. Tiap pagi dan malam tamu selalu berdatangan dan ibu menyambutnya dengan ramah dan sabar. Ibu, sosok yang kehadirannya dibutuhkan banyak orang.                                Ibu  adalah sebutan untuk nenek saya. Disebut begitu biar awet muda, katanya. Sementara saya memanggil umi pada ibu kandung saya. Sejak muda beliau sangat senang membantu orang lain. Salah satunya adalah 'hobi' menjodohkan para jomblo. Ya, ini bukanlah hal sepele, karena menjodohkan adalah salah satu perintah dalam Al-Qur’an: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu , dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya)

Escaped to Eco Green Park Malang

Menurut Ibu Septi Peni, dalam Kulwap IIP yang diadakan pada hari ini, Selasa, 5 Desember 2018, komunikasi adalah sarana pendidikan bagi anggota keluarga. Ia berperan penting untuk menentukan apakah sebuah keluarga menjadi sakinah mawadah warahmah atau tidak. Salah satu cara untuk menjalin komunikasi adalah dengan meluangkan waktu khusus 2-3 hari keluar dari zona kehidupan sehari-hari. Yup, istilah kerennya quality time bersama keluarga. Saya merasakan sendiri betapa pentingnya quality time dengan keluar dari zona kehidupan sehari-hari. Selain terjalinnya kedekatan dengan keluarga, juga menambah refresh pikiran. Sehingga kita jadi lebih bersemangat saat kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Escaped to Eco Green Park Malang Dalam rangka keluar dari zona kehidupan sehari-hari, selain tafakur alam, long weekend kali ini saya dan suami mengunjungi Eco Green Park di Malang. Ini kali kedua kami kesana. Pertama bersama teman-teman kantor suami, kedua kali ini bersama keluarga

4 Hal yang Baru Saya Ketahui tentang Chicking

Di sebuah malam saat saya dan suami dengan liburan ke Plaza Surabaya. Sebuah banner besar menarik perhatian saya.  Baliho besar di lantai satu itu mengumumkan bahwa akan segera dibuka tempat makan bernuansa Arab bernama "Chicking". Wah, sepertinya asik makan disini, pikir saya. Alhamdulillah beberapa hari kemudian, tepat hari Selasa, 14 November yang lalu Allah menghadiahi saya makan di tempat istimewa ini, tempatnya segala makanan khas Arab. Senang? Pasti.  Chicking: Resto Spesialis Masakan Arab Saya tinggal di dekat kawasan Arab di Surabaya, yakni di kawasan Ampel (jalan Mas Mansyur dan Nyamplungan). So, sudah ‘ wareg ’ berbagai makanan arab. Mulai makanan favorit yakni kebab (dan kawan-kawan) hingga gule. Bahkan tetangga saya bekerja di tempat penjualan gule khas arab. Terkadang beliau membawakan keluarga kami sepanci besar gule. Jadi lidah ini tak bisa lepas dari makanan-makanan Arab, hehe. Dan... setelah disuguhi menu-menu istimewa Chiching, inst

Saat Mimpimu Hancur, Ingat 3 Hal Ini!

Saya sudah putus asa, waktu itu. Sebuah mimpi hancur berkeping-keping. Mimpi yang saya bangun sejak SMA hancur dan sempat akan saya kubur hidup-hidup. Mimpi itu sederhana, keluar negeri. Awalnya mimpi saya membumbung tinggi. Dengan semangat menggebu saya bermimpi bisa kuliah di Al-Azhar Kairo. Mulai menghafal Al-Qur'an, belajar Bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama lainnya. Kelak saya menyesal, sebab semua usaha yang saya lakukan hanya untuk dunia. Mungkin waktu itu saya bermimpi gegara nge-fans novel-novel Kang Abik, hehe. Tak ayal jika mimpi ini terhempas angin begitu saja. Sebab keadaan orang tua yang kurang mampu mengharuskan saya kuliah gratis di sekolah negeri, mulai SD hingga SMA.  Saat diterima di UNAIR, saya rajut lagi mimpi itu. Meski mimpi kuliah di Al-Azhar diturunkan menjadi, "yang penting keluar negeri", entah beasiswa short course atau sekedar jalan-jalan. Tapi kisah seakan berakhir tragis, mimpi itu seakan mustahil, sebab hingga hari kelulusan ku

Dear, Butuh Waktu Berapa Tahun Lagi?

Ruangan sudah penuh sesak. Saya mencoba mencari celah untuk bisa sekedar duduk dan melihat ke layar. "Disini tak apa, itu masih banyak yang mau masuk ruangan ndak bisa." Kata teman SMA saya. Alhamdulillah Allah perkenankan untuk bersua lagi ditempat yang indah ini. Ya, kami bersyukur masih dapat tempat duduk. Meski berada tepat dibawah layar proyektor. Jika memaksa melihat layar, mata akan sakit, yasudah banyak menunduk saja, untuk menulis." Kalimat demi kalimat berusaha saya tuliskan. Hingga akhirnya sampailah pada sebuah kata, "Butuh waktu berapa tahun lagi Anda untuk menghafalkan Al-Qur'an?" kalimat itu begitu menusuk dan menghujam ke ulu hati. Kalimat yang diucapkan seseorang yang ada di layar proyektor itu. Ya Rabb.. Tabligh Akbar Ust. Adi Hidayat Hari itu, 10 November 2017 Ustadz Adi Hidayat berkunjung ke Surabaya. Satu-satunya kajian yang dikunjungi di Surabaya adalah Masjid Al-Irsyad. Jaraknya hanya sekitar 10 km dari rumah atau sek

NGOBROL BARENG MPR SAMBIL BELAJAR ILMU KEBANGSAAN

Hari itu, Sabtu 4 November, sangat cerah, karena itu saya akan menghadiri sebuah event Blogger yang diadakan oleh MRP RI. Hari yang saya tunggu, karena saya masih jarang ikut eventnya para blogger, maklum masih newbie, Hehehe. Dengan rapi saya datang menuju Fairfield Hotel di jalan Mayjen Sungkono. Setelah registrasi dan persiapan, akhirnya tepat pukul 9 acara dimulai, sudah dihadiri oleh Sekjen MRR RI, Pak Ma'ruf Cahyono. Sebelum diskusi dimulai, kami menyempatkan diri untuk berfoto, hehe. Setelah menunggu, akhirnya acara dimulai. Dibuka oleh Mbak Nurul, salah seorang Blogger yang kemarin mendapatkan undangan dari Google di Amerika. Ya, salah satu keistimewaan acara ini saya bertemu orang-orang keren! Tak hanya Mbak Nurul, Beliau juga memperkenalkan 2 blogger yang mengharumkan nama Indonesia dengan mendapat undangan dari Google, yakni Mas Fahmi dan Mas Budiono. Setelah MC membuka, acara dilanjutkan dengan diskusi yang dipimpin oleh Mbak Avi. Beliau men

Menikmati Makan Malam di Bakmi Jogja Tegal Sari

Anda orang Surabaya? Atau sedang berkunjung ke Surabaya? Jika ya, sekali-kali cobalah untuk berkunjung ke rumah makan dengan konsep yang unik, yakni semua pegawainya berbahasa Jawa. Eits, bukan Bahasa Surabaya yang kasar itu ya, tapi Krama Inggil! This is it, Bakmi Jogja! Rumah makan ini terletak di Jalan Tegal Sari. Padahal saya sangat sering lewat sini, tapi anehnya baru tahu kalau ada tempat makan yang unik ini. Pertama kali masuk, kesan pertama yang saya rasakan adalah tempat makan ini sangat ramai. Padahal saya berkunjung bukan saat weekend. Karena tempat duduk sudah hampir penuh, kami pilih tempat duduk di amben. Jadi bisa bersantai sambil selonjoran. Kami pesan menu andalan yakni Bakmi Goreng dan Nasi Goreng Jogja. Harganya? Ya cukup merogoh kocek sih, seporsi seharga 21.000. So, jangan sering-sering kesini, cukup sekali dua kali aja, wkwkw. Setelah menunggu sekitar 10 menit, menu Bakmi datang. Dari tampilannya, tak jauh beda dengan mie instan kuah, hehe. Ras

Saat Orang Tua Tak Mengizinkanku Menikah

"Orang tuaku belum mengizinkanku menikah." curhat seorang muslimah. Alasannya klasik, masih kuliah. Padahal sang perempuan sudah terlanjur cinta dengan seseorang, dan sang laki-lakinya pun rasa yang sama, dan siap untuk menikahi. Kisah seperti ini, tak hanya satu. Banyak perempuan yang mengeluhkan tentang hal ini. Terhalang menikah karena Restu orang tua. Orang tua seringkali menganggap anaknya belum dewasa. Sehingga jika sang anak meminta izin untuk menikah, orang tua justru akan mentertawakan anaknya, " Arek cilik kok pengen rabi (anak kecil kok ingin nikah." begitu pikir orang tua. Bahkan ada orang tua yang juga masih berat untuk melepas anaknya meski sudah menikah. Memintanya untuk tetap tinggal bersama mereka. Tak hanya soal menikah, banyak orang tua yang juga melarang anaknya kuliah di luar kota, jauh darinya. Persoalan selanjutnya adalah saat intervensi yang terlampau besar pada sang anak. Ada sebuah kisah nyata yang dialami oleh nenek say

Luka

Kemarin di grup Blogger Muslimah Indonesia, sang founder bercerita, ada seseorang yang bercerai dengan suaminya. Intinya ia stress, lalu seorang psikolog menyuruhnya untuk menulis. Kini lukanya itu sembuh karena ia terus menulis. Satu hal yang saya pelajari, menulis adalah sebuah terapi menyembuhkan luka. Di hari yang sama, saya juga belajar tentang luka dari seorang novelis internasional, Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara. Sebuah novel yang menyihir dunia dengan mantra ajaibnya, "man jadda wajada". Hari itu saya hadir dalam bedah buku terbarunya, "Anak Rantau". Berkisah tentang seorang bernama Happy. Ia dipaksa oleh bapaknya pulang dari perantauannya. Kembali dari perjalananya menjelajah dunia menuju kampung dia dilahirkan, tanah Minang. Belajar Memaafkan Menurut sang penulis, novel ini memiliki misi agar pembacanya belajar banyak tentang memaafkan. Sebagaimana sebuah novel yang tidak boleh menggurui pembacanya, novel Anak Rantau ini adala

Menghadirkan Berkah dalam Keluarga

"Barakallahu Laka wabaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir" Doa ini mengalir pada pasangan Muslim yang baru saja mengikut cinta dalam pernikahan. Ya, doa ini ialah anjuran dari Nabi, bukan mendoakan, "Semoga segera punya momongan." atau "Semoga langgeng." Bahkan bukan pula "Semoga Sakinah, mawaddah wa Rahmah" Sebab Sakinah mawaddah wa Rahmah telah terangkum dalam doa memohonkan berkah tadi. Doa ini adalah sebuah harapan. Harapan terindah atas terikatnya dua insan. Kebahagian di dunia tidak mutlak. Mendoakan banyak anak misal, apakah lantas kita bisa menjamin dengan banyak anak pasangan ini akan hidup bahagia? Akan bertemu bersama lagi di surga. Banyak anak bukanlah sebuah ukuran sebuah kebaikan. Kyai Al-Kholil, seperti dikisahkan oleh Ustadz Salim A. Fillah, memberi contoh tentang keluarga Nabi Ishak, sebanyak 10 anaknya nakal, mereka tega membuang Yusuf, adiknya sendiri kedalam sumur. Namun, Allah tetap mem

Kisah tentang Masa Ta'aruf

Sudah berhasil melewati ODOP  (One Day One Post) hari ke tujuh. Alhamdulillah, masih bisa Istiqomah. Namun siang ini jemari ini macet, enggan untuk digerakkan. Padahal kemarin sudah baca buku, hendak menuliskan apa yang sudah kubaca. Namun ternyata, tetap saja, bingung apa yang harus ku tuliskan.  Jadi, saya putuskan untuk berkisah saja. Berkisah tentang masa indah bernama ta'aruf. Baca juga:  Mengenal Ta'aruf, Jalan Suci Menemukan Cinta Sepulang dari sholat jamaah isya, seperti biasanya ada Ikhwan yang juga jamaah di masjid.  Banyak sekali ikhwan akhwat yang datang ke rumah. Tahukah untuk apa? Keluarga saya mengelola sebuah lembaga biro jodoh islami. Jadi, hampir tiap malam ada Ikhwan akhwat yang datang untuk ta'aruf, lalu berjamaah di masjid.  Saya selesai dzikir, mau melaksanakan sholat sunnah, lalu si Ikhwan yang juga jamaah di masjid ini juga selesai dzikir, waktunya bersamaan. Akhirnya saya sholat dengan cepat, tentu saja enggak mau jika kami k