Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Saat Ditanya, "Kapan Nyusul?", "Kapan Hamil?", dan Kapan Lainnya

Pernikahan adalah fase dalam kehidupan tiap hamba. Begitu pula dengan berketurunan. Sebagai salah satu tujuan pernikahan, anak adalah hal yang diharapkan dalam kehidupan. Tapi kehidupan selalu diiringi dengan kerikil. Banyak diantara kita yang masih belum menikah. Dan dengan entengnya orang lain bertanya padanya, "Kapan nikah" Pertanyaan yang membuat si pemilik hati gundah gulana. Menambah keperihan, dan berujung pada rasa tidak nyaman pada penanya.  "Duh, teganya. Memang saya ingin seperti ini?"  Ada pula diantara kita yang belum juga mendapat keturunan. Hal yang sama terjadi. Akan banyak orang bertanya, "Kapan hamil?" Pertanyaan yang membuat dada terasa sempit. Bumi yang luas serasa menghimpit. Akhirnya berujung hanya hati yang merana dan meradang. "Duh, tega sekali. Memang kami tak ingin punya anak?" Lalu apa yang bisa kita lakukan? Haruskah tiap pertanyaan yang menghujam itu menjadikan kita tak bahagia? Ikhlas dan Ri

Mengenal Ta'aruf: Jalan Suci Menemukan Cinta

Percaya atau tidak, hanya sekali bertemu dengan suami saya langsung memutuskan untuk menuju jenjang pernikahan. Bertemu beberapa menit untuk kehidupan seumur hidup. Inilah ta'aruf. Dimana kita tak perlu menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk hubungan yang tak menentu. Ta'aruf adalah sebuah proses perkenalan sebelum menuju jenjang perkenalan. Ta'aruf bukanlah pacaran, proses ini harus diniatkan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Beberapa proses ta'aruf adalah sebagai berikut. Proses Ta'aruf 1. Proposal Nikah Proses indah ini diawali dengan membuat proposal nikah. Proposal nikah ini tak hanya berisi biodata kita, melainkan hal yang spesifik. Seperti visi misi pernikahan, deskripsi keluarga, hingga kekurangan dan kelebihan kita. Setelah kita menyerahkan proposal ini pada Ustadz/Ustadzah/Murobbi yang menjodohkan kita, kita juga akan disodori proposal pernikahan milik calon pasangan. Jika memang kita tertarik untuk denga

Lima Ciri Guru yang Menginspirasi

Menjadi pengajar lebih dari 10 tahun, menjadikan saya belajar betapa berat mengemban amanah untuk menjadi guru. Bermula dari mengajari anak-anak mengeja huruf hijaiyah, mengajari Bahasa Inggris, hingga mengajari menulis. Yang terakhir itulah yang paling berat, karena memotivasi murid untuk menulis sungguh sangat susah.  Berbahagialah saat kita menjadi seorang pengajar. Pak atau Bu, Sir atau Miss, Ustadz atau Ustadzah, apapun namanya mereka adalah orang-orang yang mulia. Guru adalah lentera kehidupan. Mereka menjejakkan kaki di pelataran untuk mencetak generasi-generasi baru. Memegang amanah berat untuk mengubah kehidupan masyarakat. Merekalah tumpuan harapan kita, untuk menjadikan dunia, khususnya negara tercinta ini menjadi lebih baik. Mereka adalah pahlawan yang tidak sekedar mengajar dan menunggu awal bulan untuk gajian. Namun bekerja keras untuk menjadikan anak-anaknya menjadi berilmu dan beradab. Ya, ilmu dan adab. Miris sekali, saat mendengar ba

3 Hal Terseru Jadi Mahasiswa UNAIR

Hari kelulusan 25 September 2016 Alhamdulillah, akhirnya saya benar-benar bisa lulus kuliah. 25 September adalah hari yang benar-benar bersejarah dalam kehidupan seorang Nabila yang sebenarnya bukanlah siapa-siapa. Bahagia, tentu. Bukan hanya karena lulus menyandang predikat alumnus UNAIR, tapi juga karena sehari sebelumnya telah genap usia menjadi 21 tahun. Tak lagi anak muda lagi. Setelah lulus, banyak kenangan indah berkelebat. Salah satunya adalah betapa serunya pernah jadi mahasiswa UNAIR. Dulu sekali, saya pernah punya mimpi jadi mahasiswa HI UGM, pernah juga ngos-ngosan mengejar beasiswa luar negeri. Bahkan pernah terpikir untuk menetap di timur tengah, jadi Ulama' hehe.. Tapi semua mimpi itu seakan tak diridhio Allah. Saya tahu betapa beratnya umi dan abi jika harus melepas anak perempuannya ke negeri orang. Saya jadi tahu rahasia Allah tentang hikmah ini. Setidaknya ada tiga hal terindah yang saya rasakan ketika jadi mahasiswa UNAIR. 1. Membuka Jendela Du

Bacalah Sebelum Berjuang!

Wahai saudaraku, masihkah hari ini Engkau menghirup nafas? Jika ya, sadarkah, bahwa kita terlalu hina untuk mendapatkan berbagai kenikmatan ini. Tak pernahkah kau tahu, saudara kita disana harus bertaruh nyawa hanya untuk menegakkan sholat jum'at. Atau saudara kita yang hari ini harus merasakan ketakutan. Ketakutan yang sangat menyeramkan. Tak ada rasa bahagia. Tak pernah merasakan nikmatnya tidur siang. Bahkan tank-tank siap menyerbu nyawa yang lemah. Saat jiwa-jiwa liar menerjang. Dan bom-bom yang bisa saja dengan sekejap menerobos atap rumah. Sudah terlalu sakit jiwa ini. Belum habis rasa sakit hati karena terlukanya saudara kita di Palestina. Rasa itu makin pilu ditambah dengan semakin bertambahnya jiwa-jiwa suci yang syahid di bumi Suriah. Belum ditambah Rohingya, dan berbagai kisah pilu yang terlalu sakit untuk dibahas. Boleh saja hari engkau ini kita berbangga dengan banyaknya uang di rekening kita. Boleh saja senang karena bisa jadi mahasiswa kampus ternama. Bole

Saat Seorang Muslim Wajib Berjuang

Masih tentang media dan powernya. Yakni saat semangat saya jadi membahana setelah  membaca tulisan Bu Sirikit Syah di Jawa Pos tentang perjuangan Pak Dahlan memulangkan sang putra petir pulang kembali ke Indonesia. Tak disangka semangat saya bertambah setelab membaca postingan putra petir di Facebook barusan. Saya terkesan dengan keberaniannya mengangkat isu Jakarta, saat identitas seorang Muslim terkoyak oleh Ahok. Saya bukan pengamat politik. Namun yang jelas, sebagai Muslim kita wajib berjuang! Wajib!  Bentuk Perjuangan Memang hari ini kita semua sama-sama berjuang. Hanya saja mungkin dalam tempat dan nuansa yang berbeda. Kata guru saya di ma'had, Ustadz Ali Ridho, "Muslim itu satu tubuh, sakit salah satu badan, maka saat semua ikut sakit." Ya, saat perut saya sakit, air matalah yang justru jatuh. Saat saudara menangis, sayapun ikut terluka, sama. Minimal Berdoa Saya juga ikut bersedih saat teman-teman sesama aktivis Muslim malah justru mencerca saudara

Menghadapi Media dan Kesombongannya

Saya terdesak dengan kalimat dari Sirikit Syah, dosen senior Stikosa AWS Surabaya dalam kolom opini Jawa Pos, "Pers memang harus independen dan objektif. Namun dalam keadaan darurat, pers berhak melakukan perlawanan." Dalam dunia media kita sudah mafhum bahwa media memang menguasai masyarakat. Tapi ada pelajaran dari kisah tragis orang-orang islam yang terdholimi karena media. Sebut saja kisah Pak Dahlan Iskan yang kini berada di bui dengan kondisi memprihatikan. Padahal dokternya menyatakan ia bisa mati dengan kondisi fisik yang lemah karena transplantasi jantung. Suatu kali Dahlan pernah dimarahi karena korannya tidak memuat berita paling memilukan dengan dibredelnya detik, tempo, atau editor. Meski ia mengatakan tak bisa berbuat apa-apa di zaman order baru, tapi rupanya ia tidak diam, ia justru menampung para wartawan yang gulung tikar. Saya tidak akan membela dan memuji seorang Dahlan, toh saat lihat Jawa Pos di rumah tiap hari dengan hiasan wanita-wanita te

Siap Go Internasional!

Berawal dari 25 Juli lalu, saat saya dinyatakan menjadi lulusan English Language Teaching Universitas Airlangga. Ya, saya apply berbagai lowongan pekerjaan, namun hasilnya tidak memuaskan. Desakan dari keluarga untuk lanjut ke jenjang S1 membuat saya berpikir keras. Jika saya menghabiskan uang lebih dari 10 juta untuk mendaftarkan diri ke alih jenjang S1, betapa besar uang yang sudah saya habiskan selama lima tahun kuliah. Bukannya balik modal, waktu saya habis berkutat dalam bangku kuliah, pikir saya. Padahal kampus saya telah mempersiapkan lulusannya untuk dapat menjadi seorang entrepreneur. Saya kemudian mengontak beberapa sahabat dekat. Pertama seorang blogger yang punya penghasilan tetap diatas lima juta perbulan. Setelah berdiskusi panjang, akhirnya Ia bersedia bergabung dalam proyek perbaikan umat. Proyek untuk menyadarkan masyarakat Indonesia melek Bahasa Inggris: iCan Course. Alhamdulillah jadilah www.icancourse.com . Saya juga mengontak salah satu teman ju

Three Awesome Ideas for Honey Moon

Bulan madu adalah momen paling ditunggu oleh semua pasangan. Termasuk saya dan pasangan yang hobi mengunjungi berbagai destinasi eksotis di Indonesia. Saking ditunggunya, kami pun mencuri start. Sejak sebelum resmi menjadi pasangan kami telah merencanakan berbagai ide untuk bulan madu, setidaknya ada tiga ide keren yang kami list sebelum melakukan bulan madu. See Your beutiful on Top Bagi para pecinta travelling, hiking adalah ide terbaik bagi pasangan suami istri. Mengapa bisa menyenangkan? Karena ternyata justru perjalanan yang membutuhkan perjuangan-lah yang lebih berkesan bagi hati. Hiking juga mengajarkan kita untuk  melakukan perjuangan sebelum mencapai puncak terindah bernama sakinah mawadah wa rahmah. Banyak destinasi hiking di Indonesia yang membuat para traveller -terutama luar negeri- kesengsem. Pilihan saya jatuh pada Gunung Ijen di Banyuwangi. Selain lokasi yang dekat dengan Bali dan berbagai destinasi terbaik di Indonesia, Ijen sangat pas bagi climber

Review Quantum Writer-Bobby DePorter

Buku pertama yang membuat saya jatuh cinta pada dunia menulis adalah Quantum Writer karya Bobbi DePorter. Dulu saat seragam saya masih putih biru (sekarang pakainya celemek, hehe), Ammah membawa sepaket serial Quantum, yakni Quantum Reader, Writer, Note-Taker, dan yang paling fenomenal yakni Quantum Learner. Buku ini menjadi pegangan saya sebelum menulis apapun, hard news, esai, cerpen, bahka status sekalipun. Meski tipis, nyatanya teori yang disampaika oleh DePorter banyak dipakai oleh penulis-penulis internasional. Teori sederhana bernama PAK! Dengan PAK tulisan tidak hanya sekedar tulisan, namun menggerakkan yang memiliki nyawa yang mengajak pembaca larut dalam tulisan.  Identitas Buku  Judul: Quantum Writer-Menulis dengan Mudah, Fun, dan Hasil Memuaskan Penulis: Bobby DePorter Penerbit: Kaifa (Mizan Group) Halaman: 76 Halaman Terbit: April 2009 Pemuda Penginspirasi Jarang sekali ada anak muda yang menulis dengan sistematis dan eksklusif. Meski memil

Before Starting to be a Journalist

Jurnalistik adalah bidang yang saya geluti mulai dari awal menjadi mahasiswa. Menjadi seorang jurnalis berarti siap dengan deadline yang ketat, jadwal wawancara yang beragam, hingga kejar-kejaran jadi narasumber. Kelihatannya memang lebih keren bawa rerorder dan SLR dan mobile kemana-mana daripada hanya sekedar nulis berjam-jam di dalam kamar. Namun lika-liku menjadi seorang jurnalis jelas lebih menantang daripada hanya sekedar menjadi penulis lepas atau blogger. Sebelum melangkah lebih jauh menjadi seorang jurnalis, perlu kita tahu beberapa langkah sebelum memulai aktivitas menjadi kuli tinta ini. 1.        Niat Satu Ojo Dumeh Sub judul ini cukup menggelitik saya. Kalimat ini tertempel pada kamar adik laki-laki saya. Tak semua orang Jawa yang tahu arti kalimat ini, apalagi saya seorang Jawa amatiran, bisanya Cuma Bahasa Suroboyoan saja, hehe. Ojo dumeh artinya jangan sok atau sombong. Ini penting sebelum kita memulai menulis, karena segala yang kita lakukan akan sia-sia

Agar Honeymoon Berbuah Berkah

Honeymoon adalah salah satu kegiatan menyenangkan bagi pasangan suami istri. Banyak hal memang yang bisa kita isi dalam pernikahan dan salah satunya adalah tadabur alam. Tadabur alam adalah sebuah bentuk kesyukuran kita agar senantiasa bertasbih untuk memuji kebesaran Allah. Banyak diantara kita yang mengatakan bahwa tiap orang harus piknik, piknik, dan piknik, biar tak jenuh pada kehidupan yang fana ini. Memang benar, tapi tak ada salahnya kita belajar agar honeymoon tak sekedar senang-senang semata. Agar waktu yang kita luangkan, tenaga yang kita habiskan, hingga uang yang kita kuras, hehe, berbuah pahala. Berikut beberapa list yang harus kita centang sebelum memulai sebelum perjalanan. 1.        Ridho Allah jadi Tujuan Perjalanan kita akan menuai banyak hikmah dan berkah jika segalanya bernilai ibadah. Karena kita adalah seorang hamba, maka kewajiban kita sesungguhnya hanya satu, yakni ibadah. Bumi manapun yang kita pijak, maka tujuannya adalah untuk ibadah. Tidak sem

Karena Menikah Ibadah

Tak terasa usia pernikahan kami sudah lebih dari setahun. Artinya selama itu pula kami menjalani lika-liku pernikahan yang beragam. Susah jadi garam, senang jadi gula, hidup akan hampa tanpa ada dua resep dasar itu. Sayangnya banyak mutiara yang tercecer, banyak hikmah yang tak terabadikan.  Padahal sabda Nabi shallahu ‘alayhi wassalam, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak bermanfaat dengan bagi orang lain.” Menikah adalah ibadah, dan ilmu menjadi pondasi terkokoh agar rumah itu bersusun indah. Saya dan suami telah sepakat untuk menuntu ilmu dan membagi ilmu. Beberapa ulama atau Ustadz terdahulu yang telah menghasilkan puluhan hingga ribuan karya akan menjadi referensi keilmuan kami. Beberapa guru yang ilmunya akan menghiasi blog ini adalah Ibnu Qayyim Al-Jauzi yang banyak menulis tentang cinta, Amru Khalid yang banyak menulis tentang hati dan tazkiyatunnufs, para penulis yang hingga hari ini terus berkarya, Salim A. Fillah dan Cahyadi Takariawan, jug

Empat Cara Cepat Mengolah Daging

Iedul Qurban menjadi kenikmatan tersendiri bagi kaum muslimin setelah hari raya Iedul Fitri. Nikmat sekali karena di hari-hari biasa kita mungkin hanya mendapati ayam dan ayam sebagai menu utama, atau mungkin tahu dan tempe -seperti keluarga kami, hehe. Hari raya ini menjadi momen dimana setiap rumah kaum muslimin mendadak berlimpah daging. Daging-daging segar yang baru dimasak kemarin itu siap diolah.  Perlu trik khusus untuk memasaknya dengan cepat namun tetap memiliki cita rasa yang bikin lidah bergoyang. Empat cara cepat ini akan memudahkan kita untuk memasakan aneka olahan daging dengan cepat. Apalagi bagi keluarga kami yang belum punya kulkas, daripada meminjam kulkas mertua atau kulkas tetangga, hehe, lebih baik langsung diolah dan disajikan bagi semua anggota keluarga. Blender menjadi Olahan Daging Cara pertama ini adalah memblender daging yang ada dengan es batu yang sudah dipotong-potong. Es batu ini akan memudahkan blender kita agar tidak kelalahan