Skip to main content

Posts

Showing posts from 2011

Antara Sedih dan Gembira

Inilah kisahku saat detik-detik Iedul Fitri…             Sebenarnya kita semua harus bersdih, karena telah ditinggal Ramadhan. Setitik jua, mesti jiwa setiap mukmim, ada rasa kesedihan. Meskipun kesedihan kita belum berbentuk. Harusnya kita malu pada para sahabat zaman Rasululloh yang selalu menangis saat hendak ditinggal Ramadhan. Bagaimanapun, Ramadhan telah meninggalkan banyak hikmah, dan sebik-baik kaum muslimin ialah yang dapat mengambil hikmah itu.             Iedul Fitri akan segera tiba. Seluruh kaum muslimin semarak ketika menyambutnya. Inilah yang menggembirakan. Begitu juga dengan kebiasaan di kampungku. Karena esok telah takbiran, dan telah menjadi kebiasaan bahwa takbiran harus di   lakukan dengan bergembira. Warga kampung bergotong royong untuk memeriahkannya. Keluargaku mendapat tugas untuk menyiapkan konsumsinya. Maka dirumah ada masak-masak besar untuk konsumsi untuk warga yang takbiran. Meski malam takbiran masih besok, kami telah mempersiapkan semunya. Pagi-pagi

Saat Ramadhan Bicara

Wahai seluruh manusia Dengarlah aku yang bersenandung Kutinggalkan kalian semua Berbahagialah kalian yang telah suka cita menyambutku Dan bersedih saat ku harus pergi Celakalah kalian yang bermuram saat aku menghampiri Dan bersuka ria saat aku pergi Wahai manusia Yang telah memanfaatkan segala pelatihanku Mengisiku dengan munajat kepada Allah Beramal sholeh dan memperbaiki diri selama aku bersamamu Kusematkan untuk kalian Sebuah gelar kehormatan HambaNya yang Muttaqin Meski kau tak ingin aku aku pergi Sesungguhnya aku harus pergi Telah kutinggalkan pada kalian Iedul Fitri Bergembiralah karenanya Sebab dirimu telah menang Melewati semua bentuk penggemblenganku Ku mendoa pada Allah Agar diriku dapat berjumpa denganmu lagi Dan semoga kalian jadi insan yang lebih baik lagi Amin

Saatku Merindu

      Islam dapat tersebar ke seluruh penjuru karena dakwah oleh orang-orang mukmin yang telah terpanggil untuk menyebarluaskan agama Allah SWT.  Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS.Ali Imron : 104)      Dalam firman Allah SWT telah jelas bahwa Allah SWT meninggikan golongan orang-orang yang mau menyeru orang lain untuk ke Jalan Allah SWT. Jika kita ingin beruntung, maka haruslah kita ikut andil dalam dakwah menyebarkan agama islam.       Dalam perkembangan zaman, berdakwah tidaklah harus dengan mimbar, di masjid, ataupun cermah-ceramah. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk berdakwah. Misalnya Asy-Syahid Hasan Al-Banna memulai dakwah di warung-warung kopi, bukannya di masjid. Mengapa? karena di warung kopilah terdapat banyak orang yang sedang berkumpul, berbeda dengan kondisi masjid yang sepi dari perkumpulan orang-oran g.  

Pendar Cahaya di UPN

Di bawah temram lampu yang menghujaniku dengan   cahaya jingga berpendar kuning. Menawan, apalagi menjadi horizon saat alam di luar sana gelap gulita. Mewahnya cahaya itu tak dapat mengalahkan kesibukan otakku yang terus berputar. Lama berfikir akhirnya air mata itu menetes juga. Penghayatan dari dua hari di UPN membuat kami sadar, belum seberapa perjuangan kami untuk umat ini. Sesaat setelah mengikuti speech contest di Cito, dengan dihadapkan beribu pengalaman berharga, kami langsung menuju ke UPN, tempat berlangsungnya seminar yang diadakan Permata Insani. Saat mengikuti awal materi yang telah terlambat, kami sempat terkatung-katung karena ketinggalan. Tapi…”Allohumma inni asaluka ilmannafiia wa rizqan thoyyiba, wa amalan mutaqabbala…”. Kupanjatkan doa dan niat suci untuk menuntut ilmu. Beruntung kami duduk di samping sahabat yang dermawan, menuntunku saat di landa kebingungan. Hari pertama, kami di berikan hikmah luar biasa. Manusia memiliki keh

???Inikah Dunia Wahai Kawan???

Namaku Islami Bela. Ya, semua tahu itu. Dalam ilusi, aku hanya mimpi, dalam senda gurau, tipu daya belaka. Karena dunia hanya tipu daya. Sebagai orang islam, kita harus bisa mempertanggung jawabkannya. Bukan hanya untuk penghias KTP, begitu kita tahu. Semua hanya sementara Tentu semua tahu Tapi dunia dan tipu dayanya akan terus mengejar Kita tertawa...terbahak-bahak "Hahaha...Kita berhasil..Inilah perjuangan kita. Wah tak sia-sia aku begini, begitu...bla-bla-bla.." Memang, tak boleh siapapun kita panggil di si bodoh, walau sebodoh apapun dia. "Karena hidup akan mengajarinya.."Begitu kami membaca buku milik sang pejuang. Aku pernah berfikir, buat apa semua ini dihadapkanNya? Ternyata jawabannya tak lain adalah "IBADAH". Baru saja aku dihadapkan, pada komputer,  yang melahap seluruh jagad raya. Hingga adikku bilang, "Sampai kapan tuh...?" Facebook, Twitter, Google, Blogger, dan website-website lainnya. Ini yang dilakukan teman-teman hebatku.

Sebuah Laga

          Malam yang senja, dilalui tuk mempersipakan hari esok yang cerah. Pagi yang cerah, diusahakan agar bermakna pada malam yang kan datang. Berbagai kejadian, tantangan, bahkan cobaan dihadapkan Allah SWT pada kita. Tapi kita tak pernah berfikir untuk apa semua ini? Jawabannya, hanya untuk beribadah kepadaNya. Setiap pertandingan, perlombaan, persaingan yang kita ikuti dengan niat peroleh hikmah, akan jadi makna dan ibadah berarti jika ditujukkan pada Allah SWT.          Pernahkah kita berfikir, untuk apa kita dicipta seperti ini? Memilki kepribadian, minat, dan kesenangan yang seperti ini? Semua itu  agar kita belajar untuk beribadah. Allah menguji, akankah semua 'nikmat' yang diberikan Allah itu mampu kita jadikan alasan untuk bersyukur dan menegakkan kalimat Laa Illaha Illalloh.         Kita orang islam, mengapa kita harus jadi orang islam? Itu yang harus kita fikir. Sudahkah keislaman kita bemakna selama ini? Apa yang telah kita persiapkan untuk kehidupan esok, akh

Surat Perjuangan

           Kepada seluruh kawan seperjuangan            Assalamu'alaikum WR.WB.            Hitam kelam kehidupan telah kita lalui bersama. Selama itu pula kita belajar dan mengenal dunia. Disini pula kita belajar dan mengenal dunia. Disini pula kita mengenal perjuangan. Hingga kita mengenal misi kholifah fil ardh dan pembangunan masyarakat thoyyibah.           Tidak dikatakan pahlawan, jika tak berjuang. Bukanlah seorang mujahid jika tak melakukan usaha perjuangan melawan kebathilan. Dan tidak pantas seseorang mengatakan ingin mewarisi surga jika belum melakukan dan merasakan pahitnya perjuangan.           Baru kemengerti makna perjuangan saat amanah datang dari sekolah yang memintaku mewakili dalam lomba debat se-Jawa Timur di GNI. Aku dan teman-teman berjuang untuk 'proyek dakwah' ini,. dari membuat konsep di malam hari, hingga meluangkan waktu sepulang sekolah untuk berdiskusi.           Telah menjadi sebuah ketetapan dari Allah,           "Sesungg

Dua Cahaya

                Cerpen                Udara menyusup masuk jendela-jendela masjid dengan malas-malas, hanya sesekali. Lukman, karibku itu sedang ‘nggetu’ dengan bukunya. Sedang siang  sehabis jum’atan ini hanya bisa termenung merenungi nasib dakwah islam di sekolahku yang semakin redup. Sudah hampir tiga semester sejak pertama kali masuk SMA, kegiatan kislaman atau yang biasa disebut SKI ( Sie Kerohanian Islam) nyaris musnah di SMA negeriku ini.  Tak ada lagi siswa yang berminat untuk mencari ilmu agama, berdakwah untuk islam dan berjuang menyempurnakan akidah.                “He! Udah pernah tahu kisahnya Muhammad Al-Fatih belum?”Suara Lukmah dengan sangat mengebu-gebu memecahkan sebuah penghayatanku.                “Belum tuh, gimana?”Kataku penasaran.                “Dulu pada ada seorang remaja islam bernama Muhammad A-Fatih yang baru berumur 17 tahun yang telah menggantikan ayahnya menjadi seorang raja. Semangat membara karena termotifasi oleh keterangan gurunya, Asy-Syamsudin ya

Si Syerli Kecil

Bagai bunga yang mekar Menari-nari bersama angin Gemerlipan dengan kemewahan sinar Bahagia mengerubung relung hati Semerbak keharuman iman             Telah tergores dalam lembar kehidupan kisah seorang anak kecil bernama Syerli. Gadis kecil berumur sepuluh tahun yang memiliki ibu seorang non muslim dan sedang ayahnya adalah seorang muslim. Tiap hari ia datang ke musholla untuk mengaji. Ya, ia memilih bersama ayahnya beragama islam.               Gadis kecil itu cantik berkulit putih. Matanya sipit dan senyumnya manis. Sehari-hari ia bermain-main dengan teman-temannya dengan memakai rok pendek, bahkan terkadang pula memakai pakaian 'you can see'. Tentu saja pakaian itu adalah yang biasa dipakaikan mamanya sejak kecil.              Sering ia melihat teman-temannya mengaji, dengan kerudung dan pakaian  tertutup yang enak dipandang mata. Iapun tertarik untuk mengaji di sebuah musholla dekat rumahnya. Tanpa ada suruhan siapun ia terus datang mengaji dengan semngangat dan gembira.

Selaksa Semangat Baru

Ada selaksa sebuah cahaya            Memberi arti dalam hidup Mengejar kegemilangan masa depan            Kini, dengan semangat baru yang tiba-tiba datang, mendobrak naluri dengan luar biasa, perjuangan yang dipertahankan. Aku, Islami Bela akan berusaha untuk memaknai hidup. Dalam sebuah kelas saat mengikuti jam pelajaran, ada pandangan yang menyibukkan pandanganku. "Life must has the mean, Hidup harus punya arti." Sebuah kata yang indah dan bermakna. Hidup memang harus punya arti. Bukan sekadar untuk makan, tidur, dan senag-senang, tidak! Namun, sayangnya tulisan itu Islami lihat di pojok meja guru. Sungguh, membuat bangku yang seharusnya indah dipandang tersebut menjadi terkotori oleh tulisan itu.           Otakkupun berfikir, mengapa tulisan yang seharusnya begitu bermakna harus terkotori sendiri oleh penempatan tulisan itu.           Hidup memang harus punya arti! Sebentar lagi umuku tak lagi anak-anak, yakni 17 tahun. Ya, telah 17 tahun aku telah hidup di dunia ini. T

Studies of German Friends

Hari ini, Islami kedatangan tamu istimewa dari Jerman. Aku menceritakan pengalaman lewat blog ini. Sebuah pembelajaran yang diambil dari presentasi mereka di ruang perpustakaan waktu itu. Kali ini Islami akan menampilkan dalam bahasa Inggris, sekalian belajar, buat teman-teman yang belum tahu artinya, bisa lihat terjemahan di bawahnya. Hayati baik-baik ya... I did not know was ... Due to the German nation has stood so long, then the culture was already very entrenched or too maindset in his subjects, it can be said also not possible to change the life there. When I asked in a stuttering whistles, "Do you all have aspirations to change the country for the better? because I think this is the most important ...." I certainly do not understand what their answers, second thought to what changed? I'm confused itself with the question, because of limitations vokab. But after Mrs. Suli explain, then I understood that it was not easy. When I look at Indonesia, this hands

Nikmat Hujan

Saat kelas begitu sibuk dengan obrolan-obrolan, yang teman-teman anggap dapat menghilangkan jenuh karena hujan. Mereka semua memang terlalu naif, tak pernah bersyukur. Saat inilah, aku terlena akan kenikmatan hujan. Bersenyawa dengan suasana dingin, yang akhir n ya menghaturkanku untuk mengungkap segala kemewahan hujan... Hujan terus menyentuh Tapi tangan tak henti menggores Tentang asa, Cinta, dan cita yang diutamakan Pikiran ini terus bergelayut Tentang misi besar sebagai manusia  Menyentil seluruh kekuatan Memperbaiki semua elemen Lengkap sudah motivasi ini Bangun dan bentangkan sayap Mengemban cita besar,  SURGA! Teman-teman terus saja bergelayut dengan kesenangannya, tanpa menyisakan aktivitas yang sedikit membuat alam merasa sangat terbutuhkan. Bahkan ada seorang teman yang nyletuk, "Hujan lagi-hujan lagi...Bosan aku...owalah...dasar hujan!!!" Tanpa pikir panjang, aku terus memaknai hujan (baca:rahmat) dari Allah ini. Tetes, demi tetes, ternyata air mataku ikut