Uang Syubhat, Dikemanakan?




"Aku habis dapat uang proyek lho, banyak. Lebih besar dari gajimu sebulan." Kata suami sambil senyum-senyum.  

"Alhamdulillah." Kata saya. 

"Tapi sepertinya kita tidak bisa pakai uangnya." Tambahnya lagi. 

Lho kok bisa? Ternyata suami menjelaskan bahwa uangnya itu bersumber dari proyek yang tidak jelas kehalalannya, alias syubhat. 

Perusahannya bekerjasama dengan lembaga pajak yang mana sebagian besar ulama mengharamkannya. 

"Yasudah ndak apa, disedekahkan saja." Kata saya. 

Waktu berjalan.

"Mas ada dua temenku yang nikah lho. Di  kado apa?"

"Gimana kalo uang syubhatnya buat beli hadiah-hadiah buat yang menikah dan melahirkan saja?"

Alhamdulillah, ide bagus. Saya menyetujuinya. Tapi tetap saja, semua hadiahnya hadiah pemberian itu tidak bisa dikatakan sebagai sedekah. 

Saya teringat kalimat dari seorang pembicara,

"Managing income dimulai dr prinsip halal mencari rizki. Menghindari perkara syubhat dan haram, karena apapun yang kita peroleh kmudian kita makan akan diolah mnjdi daging. Darah menyebar dan mengendap selamanya dalam tubuh kita dan keluarga kita.

Dampak dari itu sangat luar biasa. Jika yang masuk adalah dipertanyakan (kehalalannya, maka) akan mmbawa ketidaktenanganan dalam hidup. Pointnya adalah Income=halal dan toyyib.

#hari4 
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

1 comment:

  1. Prinsip yang patut diteladani. Di tengah sikap yang didominasi oleh materilisme; kita kita abai & khilaf akan nilai-nilai yang demikian. Terima kasih sudah diingatkan oleh postingan pendeknya yang inspiratif.

    ReplyDelete

@nabila_haqi