Tantangan Hari ke-9

"Memutus asa terhadap manusia adalah kemerdekaan, menyambung harap kepada Allah adalah kehidupan." (Salim A. Fillah, Sunnah Sedirham Surga)

Kata-kata Ustadz muda favorit ini sungguh begitu terasa. Hari itu saya sendiri. Menahan rasa sakit sendirian, komplikasi, begitu keluh saya pada suami.

Tapi kesedirian ini yang membuat saya kalut. Apalagi janji suami yang pulang sore tidak bisa ia tepati.

Rasa sakit itu semakin terasa karena saya tak bisa melakukan apapun. Hanya berada diatas ranjang.

Sore itu saya memang mencuci tangan sendiri, setelah biasanya dengan mesin cuci.

Setelah berjam-jam bergulat dengan cucian, malam harinya rasa sakit itu semakin menjadi. Pertama rasa pusing, ditambah dengan flu yang disertai dengan meriang. Belum lagi sariawan dan panas dalam. Lengkap sudah.

Sebenarnya saya harus bahagia menjalani sindrom ini, karena hampir semua ibu hamil merasakan hal yang sama. Bahkan banyak yang lebih parah. Ada yang hingga bedrest, opname, atau rasa sakit tak tertahankan lainnya.

Saya hanya bisa beristighfar sambil menunggu suami pulang. Tiap ada suara motor, saya selalu berharap itu adalah suami saya.

Hingga adzan isya tiba, suami belum juga pulang. Setelah menunaikan sholat isya, rasanya ingin memejamkan mata. Tapi tak bisa. Ya Rabb.. saya baru tahu begini perjuangan seorang ibu yang telah mengandung. Saya jadi ingat umi, saya belum bisa berbakti pada beliau, astaghfirullah.

Beberapa menit kemudian suami akhirnya tiba. Akhirnya saya tidak bisa menahan tangis. Akhirnya pulang juga.

Suami tidak banyak bicara, hanya bertanya keadaan saya. Cukup saya menceritakan semua keluh dan ia berada di samping saya. Itu cukup bagi saya. Sekian drama hari itu. Semoga ada dosa yang terampuni dan  ada hikmah yang terselip.






#hari9 
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

No comments:

Post a Comment

@nabila_haqi