Tantangan Hari-1: Belajar Sabar

Tawa yang dirindukan


Semua pasangan yang menikah tentu 
berharap memiliki buah hati. Apa jadinya jika yang diharapkan itu tak kunjung hadir? Sedih, tentu saja. 

Itulah yang saya alami sejak 3 tahun pernikahan. Hari-hari terasa sepi dan membosankan. Apalagi saat ditinggal suami dinas berhari-hari. Rasanya menjalani mimpi buruk saja. 

Tapi Allah Maha Mendengar doa tiap hambaNya. "Berdoalah kepadaku, niscaya akan Aku kabulkan", begitu janji Allah di Al-Qur'an. 

Alhamdulillah, kini saya merasakan sendiri janji Allah itu pasti. Kebahagiaan tak terkira saat melihat garis dua di test-pack. Sungguh Allah tak pernah menyalahi janji. Allahuakbar!

Permasalahan Komunikasi dengan Suami


Selama tiga tahun Allah menguji kesabaran saya. Memang disanalah kelemahan saya, mudah selalu mengeluh dan ingin menyerah. 

Bahkan hanya masalah remehpun kadang saya tak bisa sabar. 

Suatu kali saat sedang program hamil (sebelum masa kehamilan), dokter yang ditunggu tak kunjung hadir. Padahal sudah pukul 8 lebih. Harusnya jadwalnya dokter harus datang jam 5 sore. 

Saya menunggu dengan risau. Bahkan mengatakan pada suami jika tak bisa sabar lagi. Akhirnya saya protes ke pihak rumah sakit, disanalah lalu suami marah dan berkata,

"Kalo kamu gak mau sabar, kita bakal diuji terus!!!"

Duh, rasanya sudah tidak karuan. Masalah satu ini bikin malam itu kacau balau. 

Suami memang sering jengkel untuk sifat saya yang satu ini, tidak sabaran. Maka sejak saya bergabung di Komunitas Institut Ibu Profesional, saya belajar tentang cara komunikasi efektif. 

Belajar Komunikasi Efektif


Bulan lalu saat menunggu antrian saya marah-marah lagi. Gegara pihak rumah sakit yang tidak adil, menurut saya. Semua orang yang datang setelah saya didahulukan, sedangkan saya yang berada di antrian 8 justru jadi pasien terakhir, rumah sakit sudah sepi. Rasanya ingin nangis đŸ˜­

Hari ini jadwal ke kontrol ke rumah sakit lagi. Untuk mengantisipasi drama antrian dan belajar mempraktekkan ilmu komunikasi efektif, saya datang lebih awal, jam 7 pagi.

Tapi tetap saja saya harus menunggu berjam-jam lagi. Suami yang menunggu saya gusar sudah menyuruh saya protes. 

Tapi tidaklah, saya ingin belajar sabar. 

Akhirnya berhasil saudara-saudara! Tak ada marah, ngeluh ke suami, atau acara protes segala. 

Alhamdulillah, hadiahnya saya bisa lihat janin dalam rahim saya yang semakin membesar. Meski belum berbentuk sempurna, tapi saya bahagia bisa melihatnya dari balik layar usg.

Bunda akan belajar lebih sabar, sayang. Insya Allah. 

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

1 comment:

  1. bener Mbak. pelajaran paling berat adalah belajar ikhlas. terlalu banyak godaan nya ya��

    ReplyDelete

@nabila_haqi