Pelajaran Hari ke-5: Jangan Gengsian!



Pagi hari itu saya bersiap untuk ospek. Ya, meski sudah berumah tangga begini saya tetap ingin melanjutkan study.

Universitaspun tergolong murah dan tidak terkenal. Pembelajarannya jarak jauh, tentu saja karena nanti saya harus menemani anak di rumah. 

"Mas nanti kalau ada yang tanya-tanya, jangan bilang aku kuliah di ******* (nama universitas) ya.."

"Kenapa?" tanya suami.

"Malu lah! Harusnya mas juga malu karena ndak bisa nguliahin istri di universitas yang mahal." Kata saya tentu saja dengan bercanda. Saat menulis inipun ada terbersit sedikit rasa menyesal. 

"Sesuatu yang ditutup-tutupin itu tidak baik. 

Berterus terang adalah pendidikan untuk tidak mudah gengsi. Apalagi jika nanti menurun ke anak kita nanti, ia tidak akan mudah gengsi. 

Misalnya saat ia sudah bekerja nanti. Ia rela bekerja rendahan asal tidak menyusahkan orang tua."

"Saat kamu nanti tanya.. kata suami. 

'Kamu ndak malu kah nak, kerja begitu?'

Terus ia bilang,

'ndak mi, yang penting umi ndak repot.'

Wah.. so sweet kan ya..


Saat Opsek


Setelah sampai di tempat ospek, salah satu pembicaranya juga mengatakan hal yang tak jauh beda dengan yang dikatakan suami. 

"Pokoknya nanti kalau ada yang tanya, 'kamu kuliah dimana?',

Jawab saja dengan keras! Kalau jawabnya keras, nanti ipk-nya 3.5 keatas! Tapi kalo jawabnya pelan, apalagi sambil malu-malu, nah itu nanti ipk-nya 2,5 kebawah!"

Dug! Menohok sekali!

Hm, pelajaran hari ini: jangan mudah gengsi! 

Termasuk menulis di blog ini. I will say to the the world, I continue my study  in Universitas Terbuka! 



#hari5
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

No comments:

Post a Comment

@nabila_haqi