Tentang Hati dan Para Pengemban Dakwah



"Mereka itu anak-anak yang akhlaknya buruk!" Kata seorang Bapak pengurus masjid mengomentari sekelompok remaja masjid di kota Surabaya.

Mereka adalah teman-teman suami saya, darinya pula saya mendengar banyak cerita dakwah mereka. Namun, para aktivis dakwah ini tak mendapat cinta para pengurus masjid tempat mereka berdakwah.

Masjid ini milik salah satu ormas besar di Surabaya, tapi para remaja masjid ini membawa sebuah manhaj yang berbeda.

Mereka mengadakan kajian di masjid dengan para ustadz dari golongannya. Saat pengurus masjid mengadakan pengajian dengan Ustadz lain diluar golongannya, tak ada satupun yang hadir. Dan sederet kisah lain yang membuat orang-orang terlebih pengurus masjid sakit hati.

Akhirnya, dengan menyedihkan, mereka didepak dari masjid, tak boleh lagi mengadakan acara apapun disana.

Sebuah Kesalahan Besar


Nabi diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak. Jika para pengemban dakwah malah justru tak mampu memperlihatkan akhlak yang mulia, maka orang akan justru lari dari dakwah ini.

Begitulah kisah tragis para pemuda di atas.

Kesalahan mereka adalah menganggap benar kelompoknya sendiri, dan menganggap buruk kelompok yang lain. Sehingga pantang bagi mereka hadir di majelis dengan Ustadz yang bukan dari golongannya.

Ah, saya memang masih fakir ilmu, namun sebagai orang awam saya sakit hati. Jika dakwah Islam ini terkotori oleh akhlak yang buruk.

Bukankah merasa lebih baik dari orang lain tidak diperbolehkan?

“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (7:12)

Saya pun masih perlu banyak belajar tentang ini, tentang menjaga hati.

Semoga tulisan kecil ini bisa membawa kebaikan, utamanya bagi penulis sendiri.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia
Share:

1 comment:

  1. Betul, Mbak.Yang kita dakwahkan adalah kemuliaan Islam, bukan kemuliaan golongan. Memang harus terus menjaga hati agar tidak merasa lebih tinggi.

    ReplyDelete