Luka



Kemarin di grup Blogger Muslimah Indonesia, sang founder bercerita, ada seseorang yang bercerai dengan suaminya. Intinya ia stress, lalu seorang psikolog menyuruhnya untuk menulis. Kini lukanya itu sembuh karena ia terus menulis.

Satu hal yang saya pelajari, menulis adalah sebuah terapi menyembuhkan luka.

Di hari yang sama, saya juga belajar tentang luka dari seorang novelis internasional, Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara. Sebuah novel yang menyihir dunia dengan mantra ajaibnya, "man jadda wajada".

Hari itu saya hadir dalam bedah buku terbarunya, "Anak Rantau". Berkisah tentang seorang bernama Happy. Ia dipaksa oleh bapaknya pulang dari perantauannya. Kembali dari perjalananya menjelajah dunia menuju kampung dia dilahirkan, tanah Minang.

Belajar Memaafkan


Menurut sang penulis, novel ini memiliki misi agar pembacanya belajar banyak tentang memaafkan. Sebagaimana sebuah novel yang tidak boleh menggurui pembacanya, novel Anak Rantau ini adalah sebuah perjalanan seseorang untuk memaafkan. Karena akhirnya dia tahu bahwa semua orang pernah terluka, bahkan bapaknya sendiri juga pernah terluka.

Bisakah sebuah luka dimaafkan dan sekaligus dilupakan? Kata A. Fuadi harus, kita harus bisa memaafkan sekaligus melupakan kesalahan orang lain. Itu baru kata seorang manusia. Bagaimana dengan kata Allah?

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ  كَبٰٓئِرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَاِذَا مَا غَضِبُوْا هُمْ يَغْفِرُوْنَ
"dan juga (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf,"
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 37)


Mari kita lihat ayat sebelumnya, apa yang Allah janjikan bagi hambaNya yang senang memberi maaf?


فَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ  مِّنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ  وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى  لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

"Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,"
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 36)


Lihatlah, betapa Allah menjanjikan kenikmatan yang abadi bagi mereka yang beriman, bertawakal, menjauhi dosa, dan terakhir adalah mereka yang memaafkan. Bukankah kita selalu menginginkan kebahagiaan yang sejati? Ternyata salah satu resepnya sederhana, memaafkan.

Di ayat yang lain, Allah menjanjikan surga yang seluas langit dan bumi bagi orang yang memaafkan.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ  وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

"(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."

(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 134)

Mudah di Tulis Susah di Kerjakan


Ya, kamipun masih terus belajar untuk memaafkan. Sulit, memang. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa. Memaafkan tidak akan membuat kita rugi sedikitpun kan? Bahkan membawa luka dan dendam justru akan menyebabkan jiwa dan badan kita sakit.

Suatu kali saya pernah mengikuti ruqyah massal, penasaran awalnya. Terapi awal yang diperintahkan oleh sang Ustadz adalah memaafkan saudara atau siapapun yang pernah menyakitinya.

Dari sini kita belajar bahwa, luka akan membawa dampak buruk, salah satunya adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan jin. Na'udzubillah.

Akhirnya, memaafkan memang tak mudah. Namun menyimpannya dan mengingat-ingatnya justru akan menyakitkan. Oleh karenanya, mari kita beri maaf untuk semua orang yang pernah menyakiti hati kita. Siap?



Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia.
Share:

6 comments:

  1. Kalau dikatakan siap...saya tidak sepenuhnya yakin. Apalagi sang pemberi luka ialah ayah saya sendiri. Hmmm...rasanya walau kejadiannya sudah bertahun lalu tapi masih membekas. Saya memaafkan...tapi kadangkala saat teringat kembali, luka jadi perih. Ah sudahlah

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Itulah namanya ujian Mbak, berusaha mengingat kebaikannya adalah salah satu cara untuk melupakan luka itu.

      Percayalah, segalanya akan berubah lebih baik, jika kita mendekat ke Allah.

      Semoga Allah memberkahi Mbak Artha sekeluarga.

      Terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  2. menulis bisa menenangkan hati. terus menulis dunia terasa damai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, dan yang terpenting adalah menuliskan kebaikan. Membagi semangat dan inspirasi.

      Terima kasih telah berkenan membaca.

      Delete
  3. Iya mba, menulis bisa jadi semacam terapi buat saya pribadi. Terimakasih sharingnya yaaa

    ReplyDelete