Kisah tentang Masa Ta'aruf



Sudah berhasil melewati ODOP  (One Day One Post) hari ke tujuh. Alhamdulillah, masih bisa Istiqomah. Namun siang ini jemari ini macet, enggan untuk digerakkan. Padahal kemarin sudah baca buku, hendak menuliskan apa yang sudah kubaca. Namun ternyata, tetap saja, bingung apa yang harus ku tuliskan. 

Jadi, saya putuskan untuk berkisah saja. Berkisah tentang masa indah bernama ta'aruf.

Baca juga: Mengenal Ta'aruf, Jalan Suci Menemukan Cinta




Sepulang dari sholat jamaah isya, seperti biasanya ada Ikhwan yang juga jamaah di masjid. 

Banyak sekali ikhwan akhwat yang datang ke rumah. Tahukah untuk apa? Keluarga saya mengelola sebuah lembaga biro jodoh islami. Jadi, hampir tiap malam ada Ikhwan akhwat yang datang untuk ta'aruf, lalu berjamaah di masjid. 

Saya selesai dzikir, mau melaksanakan sholat sunnah, lalu si Ikhwan yang juga jamaah di masjid ini juga selesai dzikir, waktunya bersamaan. Akhirnya saya sholat dengan cepat, tentu saja enggak mau jika kami keluar masjid secara bersamaan. 

Tapi ternyata saya selesai sholat jamaah, diapun juga selesai sholat, hadeh. Akhirnya aku berdiam dulu sebentar. Membiarkan ia keluar masjid terlebih dahulu.

Selesai malam itu, tak ada hal yang istimewa.

Biodata yang Tergeletak




Dua tahun yang lalu ada biodata seorang Ikhwan yang beberapa hari yang lalu sholat di masjid. Umi (panggilan untuk ibu saya) membacanya, kemudian berkata ke ibuk (panggilan untuk nenek saya). 

"Bu, sepertinya Ikhwan ini akhlaknya bagus. Gimana kalo untuk Nabila saja?" Kata umi.

Dieng! Bisa-bisanya sih? Aku maunya nyari sendiri, hehe. 

Mulailah umi merayu saya untuk mau dita'arufkan dengan Ikhwan tadi. 

"I am still so young! Masih kuliah, umiiii!" Pikirku. 

Tapi kalimat itu tidak disampaikan, kusimpan saja tanpa bisa berkata-kata. Akhirnya saya konsultasikan pada Rabb pemilik alam semesta lewat istikhoroh. 

Beberapa hari kemudian, entah mengapa hati ini mantap menulis biodata. Bismillah, Allah tahu yang terbaik. Menikah adalah ibadah, kuserahkan segalanya pada Allah.


Hari Pertama Ta'aruf


Hujan deras mengguyur Surabaya. Katanya sih hari ini si Ikhwan akan datang ke rumah. Ya Rabbi, kenapa hamba deg-degan? 

Hal yang sampai saat ini dia ingat adalah aku sampai terpeleset saat mau masuk ke dalam ruangan, saking tegangnya. 

Tak banyak kata-kata yang meluncur. Saya hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dia, si ikhwan. 

Dan setelah pertemuan itu, hanya ada waktu tiga hari untuk memutuskan! MasyaAllah, bertemu sekali lalu membuat keputusan untuk masa depan, bahkan seumur hidup! 

Begitulah, Allah mengatur urusan umatnya dengan sangat indah. Justru kenikmatan akan hadir saat kita menyimpan cinta pada 

To be continued, nantikan kisah selanjutnya, hehe. Maaf ya, bikin penasaran 😂

Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia.

5 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. Aku jd penasaran bacanya :D
    Ayo lanjutin, hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, senengnya dikomen Mbak Enny, hehe.

      Insyaallah akan saya lanjutkan, Mbak, someday.. :)

      Delete
  3. aih penasaran nih. 😁. Mbak masukan, ada dua kata penyebutan yang Mbak gunakan, kadang saya, kadang aku, kecampur. Coba Mbak pilih salah satu. 😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.. dapet masukan.. jazakillahu khoir, Mbak Nurin ;)

      Delete

@nabila_haqi