Udah Ngaji? Jangan Pernah Lakukan Ini!



Seorang ibu, sebut saja Bu Tika. Sepulang dari mengaji, ditengoknya sang suami yang sedang sholat. Ia amati gerakan suaminya ketika itu. Tak lama setelah suaminya selesai, perdebatanpun dimulai.

Sepele memang, sang istri hanya ingin mengingatkan suaminya. Seharusnya, ujar dia, saat mau sujud tangan dululah yang menyentuh lantai, bukan lutut.

Sang suami yang merasa disalah-salahkan oleh istri, tak terima. Karena yang suami yakini justru sebaliknya. Hingga keluarga yang sebelumnya tentram, malah menjadi arena peperangan. Ujungnya, sang suami melarang istrinya mengaji.

Lain Bu Tika, lain pula yang terjadi pada Bunga (nama samaran). Akhir-akhir ini orang tua Bunga mengeluh gara-gara semenjak ikut pengajian, Bunga sering memarahi ibunya.

Seringkali Bunga menyalahkan sang ibu dengan kata-kata ujaran, "Bid'ah", "Syirik", dll. Terlebih ketika sang ibu keluar rumah tanpa berkerudung. Ia tak segan memarahi ibunya.

Berbeda dengan Boy, yang baru-baru ini mengaji. Namun sosmednya berubah jadi panas, gegara hampir tiap hari berdebat dengan kawan-kawat sejawatnya.

Ia merasa bahwa kebathilan harus dibantah, dan kebenaran yang didapatnya dari pengajian harus disuarakan. Tak boleh ditolak. Teman-teman Boypun merasa terganggu dengan keberadaannya.

Juga sederet kisah nyata mereka yang baru saja mengaji, baru saja hijrah, namun bukannya bahagia dengan kehadirannya, orang-orang di sekitar mereka justru merasakan mereka telah berubah, menjadi tak lagi bersahabat.

Salahkah mereka mengaji?

Ikhlas Kunci Manfaatnya Ilmu




Menuntut ilmu adalah wajib bagi tiap Muslim, kata Nabi. Namun rupanya banyak yang terlupa bahwa Iblis dahulu adalah mahkluk yang taat pada Allah. Dia diusir dari surga karena berkata,

"Ana khoirun minhu"

Ya. Merasa lebih baik, ujub dan sombonglah yang menjadikannya mahkluk terhina.

Bukan ilmunya yang salah. Sungguh ilmu Allah itu menyejukkan dan menyinari pemiliknya. Hanyasannya, keikhlasan sekali lagi menjadi hal terpenting menuntut ilmu.

"Katakanlah, Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap sholat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula."

(QS. Al-A'raf 7: Ayat 29)

Seorang penuntut ilmu harus senantiasa memperbaiki niat semata-mata untuk Allah. Bukan karena manusia.

Mempelajari Adab


Islam sungguh mengatur semua aktivitas manusia dengan adab. Semua aktivitas manusia ada adabnya, mulai makan, masuk kamar mandi, melayani suami, dan tak terkecuali menuntut ilmu.

Selain menuntut ilmu itu sendiri, kita mestilah belajar adab. Karena begitulah para sahabat dahulu belajar, adab dulu baru ilmu.

Dengan belajar adab, ilmu tak hanya akan menerangi diri kita, namun juga jadi penerang bagi sekeliling kita. Misalnya saat seorang istri belajar adab berdakwah pada keluarga.

Ia mengerti bahwa seorang suami adalah qowwam, pemimpin. Tiap pemimpin tidak mau diatur, didekte, apalagi dimarahi.

Maka istri hendaknya berkata seolah bertanya, dan biarlah suami yang berfikir, tanpa perlu kita dekte jalan berfikirnya.

Begitu halnya seorang anak yang ingin berdakwah pada keluarga, bukan menyalahkan, namun memberikan nasihat dengan cara bertanya.

"Bu, bukannya dalam Islam kita diharuskan menutup aurat ya?"

"Pak, bukannya rokok itu haram ya, pripun menurut jenengan?"

Dakwah akan menjadi oase ditengah panasnya gurun pasir.

Begitulah indahnya Islam. Mengatur agar kebaikan tetap menjadi cahaya yang menerangi, bukan sebagai api yang membakar.

Ini adalah tugas berat para penuntut ilmu. Pertama, mengawali dan senantiasa menjaga niat karena Allah. Kedua, belajar dan mengamalkan adab bagi para penuntut ilmu.

Jangan pernah merasa bahwa kita lebih baik dari mereka yang belum mengaji.

Jangan pernah ada kesombongan meski hanya setitik. Karena bisa jadi, mereka yang kita anggap masih awam ternyata dihadapan Allah jauh lebih baik kita.

Semoga penulis juga diberi kemampuan untuk mengamalkannya.

1 comment:

Adbox

@nabila_haqi