4 Kiat Sukses Mendidik Anak Ala Nabi Ibrahim



"Arek wedok iku pancen ngelamak, wes ayo digarap ae! (anak perempuan itu kurang ajar, udah ayo digarap saja)" kata salah seorang murid yang membuat hati ini menangis. Dalam istilah orang Surabaya, "digarap" berarti berbuat tidak senonoh.

Bagaimana tidak menangis jika anak yang belum genap berumur 10 tahun ini sudah mendapatkan kosakata seperti itu.

Pernah juga saya melihat sendiri murid saya yang berusaha mencium anak perempuan yang lalu lari ketakutan. Masyaallah, saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

Hal yang paling saya takutnya adalah bagaimana kita membentengi anak-anak saya nanti. Bisakah mereka bertahan tidak ikut arus teman-temannya dan justru bisa mengajak mereka untuk jadi anak yang sholih?

Kengerian Zaman Sekarang

Lewat gadgetnya, anak bisa mengakses apapun hanya dalam hitungan detik

 

Siapa yang tidak ngeri mendidik anak di zaman ini? Saat berbagai kemaksiatan dan kerusakan mendatangi anak-anak kita dari berbagai arah. Meski zaman serba canggih, mereka justru dimudahkan untuk mengakses hal-hal yang menyimpang. Siapa yang tidak takut, jika hanya dalam beberapa detik, keburukan itu bisa merusak semua syaraf otak anak-anak kita.

Namun Al-Qur'an telah memberikan solusinya, karena hanya dengan jalan hidup yang telah dituntukan Al-Qur'an-lah kita dapat menyelamatkan mereka. Salah satu keluarga teladan yang Allah berikan di Al-Qur'an adalah keluarga Nabi Ibrahim shallahu 'alaihi wasallam.

Meski saya belum memiliki anak, izinkanlah saya menyempaikan sedikit ilmu tentang mendidik anak. Memang Allah melarang kita untuk tidak menasihatkan orang lain apa yang belum kita lakukan, kecuali beberapa hal, misalnya Ustadz/Ustadzah yang menyampaikan ilmu tentang berhaji, tidak mengapa ia menyampaikannya meski mereka sendiri belum berhaji, dan contoh lainnya yakni yang akan saya sampaikan.

Beberapa kiat mendidik anak ala Nabi Ibrahim


1. Mengajarkan Tauhid

Tauhid pondasi utama yang harus kita ajarkan

 

Pondasi utama ajaran para Nabi dan Rasul adalah tauhid, yakni memurnikan keesaan hanya kepada Allah. Tugas pertama kita adalah mengajarkan bahwa Allah adalah satu-satunya yang kita sembah dan yang kita takuti.  Allah-lah satu-satunya penolong dan pemberi rizki, tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan mudhorot kecuali dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Sebaliknya, kita juga harus mengenalkan kepada mereka hal-hal yang merusak ketauhidan atau syirik. Tauhid adalah untuk dipahami, diperjuangan dan diamalkan, sedangkan syirik harus dikenali agar dapat dijauhi.

Inilah pondasi utama agar anak-anak kita menjadi sholih dan sholihah. Saat ketauhidan telah tertanam pada anak kita, rasa takut kepada Allah akan muncul. Sehingga tiap kali mereka akan berbuat keburukan mereka akan mengurungkannya karena yakin bahwa Allah mengawasinya. Mengajarkan ketauhidan bisa dilakukan dengan menceritakan pada mereka kisah para Rasul, para sahabat Nabi dan orang-orang sholih, juga dengan membacakan pada mereka ayat dan hadits yang dapat memperkokoh keimanan mereka.

"Dan Ibrahim dan Ya'qub mewasiatkan kepada anak-anaknya dengan berkata, "Wahai anak-anakku sesungguhnya Allah memilihkan agama ini untuk kalian, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Al-Baqoroh: 132)

2. Banyak Mendoakan Mereka

Teruslah berdoa

 


Cara kedua inilah benteng terkuat untuk membentangi anak-anak kita dari rusaknya zaman. Nabi Ibrahim telah mengajarkan pada kita betapa pentingnya doa. Doa-doa beliau banyak diabadikan dalam Al-Qur'an, misalnya:

" Ya Allah, berikanlah kepadaku keturunan yang sholih." (Qs. Ash-Shafat: 100)

Nabi Ibrahim mengajarkan betapa kita sangat membutuhkan Allah dalam mendidik anak-anak kita. Juga mengajarkan kita tentang kemahakuasaan Allah atas segala sesuatu. Sebesar apapun usaha kita, misal mengikuti seminar parenting berjuta-juta, jika Allah tak mengendaki, maka anak kita tak akan menjadi anak sholih.

Wahai ayah bunda, sering-seringlah mendoakan kebaikan anak kita, misalnya ketika ia mengerjakan apa yang kita suruh, katakanlah padanya,

"Terima kasih ya nak, semoga Allah menjadikanmu anak sholih." Insyaallah dengan ucapan yang terdengar sederhana itu justru yanga akan tertanam dalam otak anak-anak kita dan mereka akan selalu termotivasi untuk menjadi anak sholih yang berbakti pada kita.

3. Keteladanan dan Menyerukan Kebaikan


Kunci kesuksesan mendidik anak-anak kita juga terletak pada seberapa baik keteladanan yang kita berikan. Jadikanlah kita orang tua sebagai idola bagi mereka, sehingga mereka tidak akan menjadikan artis korea atau pemain sepak bola yang jutsru menentang Allah sebagai panutan yang mereka tiru. Allah berfirman,

"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia sekali-kali bukanlah termasuk orang-orang musyrik." (QS. An-Nakhl): 120)

Umi abi, ajarlah mereka berbakti kepadamu dengan memberikan teladan untuk berbakti pada kakek dan nenek mereka. InsyaAllah dengan melihat umi dan abinya sayang pada orang tuanya, mereka juga akan menyayangi kita hingga mereka dewasa.

Abi, ajarlah anak-anak lelakimu untuk berjamaah di masjid, jangan pernah merasa lelah untuk mengajak mereka sholat di masjid, sungguh kesusahpayahanmu membangunkan mereka sholat subuh berjamaah di masjid akan diganti Allah dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Umi, ajarlah anak-anak gadismu untuk mandiri, ajari memasak, menyapu, cuci piring, dll, agar ia tidak hanya pandai di sekolah saja, namun juga pandai mengerjakan apa yang menjadi fitrah seorang perempuan.

4. Ketaatan + Ketaatan = Kesuksesan

Ajak mereka untuk untuk taat pada Allah dan RasulNya

 


Nabi Ibrahim diuji oleh Allah dengan berbagai ujian ketaan dan Beliau berhasil melaluinya. Allah muliakan Nabi Ibrahim dan keluarganya dengan selalu menyebut-menyebut mereka dalam sholawat, beriringan dengan sholawat Nabi Muhammad SAW. Sehingga ketaatan adalah kunci yang juga mendasari kokohnya keluarga kita.

Mari kita ciptakan suasana ketaatan dalam keluarga kita. Ajarkan ketaatan sedari mereka kecil. Misalnya saat mereka tersandung batu, jangan mengajarinya kebohongan dengan mengatakan,

"Aduh, batunya nakal ya.. sini mama pukul batunya!"

Justru dengan mengatakan ini kita telah mengajarkan anak-anak kita menyalahi takdir. Akan lebih indah jika kita berkata,

"Innalillahi, tidak apa ya dik, ini sudah takdir, artinya adik harus lebih hati-hati jika berjalan. Alhamdulillah ya, lukanya ndak parah."


Sungguh indah keluarga yang dipenuhi dengan ketaatan kepada Allah. Jika kita berhasil mendidik mereka menjadi anak yang sholih, maka mereka akan menjadi perhiasan dunia yang menyenangkan bagi kita, menjadi qurrota a'yun yang selalu memperindah hari-hari kita yang melelahkan. Lebih hebatnya lagi, Allah akan menjanjikan hadiah bagi kita yang berhasil membawa diri dan keluarga pada ketaatan kepada Allah dengan hal yang menakjubkan yang digambarkan dalam ayat berikut.

"dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira." (QS. Al-Insyiqaq: 9)

Masyaallah, siapa yang tidak ingin bisa berkumpul bersama keluarga di surga dengan gembira ria? Semoga Allah memilih kita dan keluarga keluarga kita menjadi golongan yang sangat beruntung ini. Ya Allah, mudahkan kami mendidik anak-anak kami menjadi anak yang sholih. Amiin.

Nb:
Tulisan ini adalah tugas dari kelas Menulis Blog Seru #2 yang bertemakan Hari Anak Nasional. Udah lama banget ya, hehe, maaf telat. 

11 comments:

  1. nomor 2 iya banget. ga kepikiran banget yaa ortu mendoakan kita anak2nya. sekarang udah jadi ortu ngerasain banget perasaan ini.. nice post teteh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atur nuhun teh.. doakan saya semoga bisa segera mengamalkannya.. hehe..

      Delete
  2. Terima kasih sudah diingatkan ya Mbak.Keempat poin tersebut wajib jadi pedoman dalam mendidik anak sekarang yang kiri kanan depan belakang penuh dengan godaan. Ketaatan+ketaatan=Kesuksesan...setujuu sekali:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. semoga kita bisa sama-sama mengamalkannya.. mengajarkan ketaatan pada anak-anak.. Amiin

      Delete
  3. Alhamdulillah...smoga saya sebagai orgtua istiqomah menjalankannya..😂

    ReplyDelete
  4. Setuju kak, sayangnya banyak orangtua yg lupa bahwa doa adalah kunci yg banyak terlupakan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener mbak.. doa emang senjata kita yang gak boleh dilupakan.. semoga kita selalu ingat.. hehe

      Delete
  5. Saya belum menikah tp juga gemees lihat anak sekarang mbak. Makasih ya ilmu parentingnya.

    Maaf ya mbak, di kutipan surat Al-baqarah ayat 132 ada yg kurang. Coba cek lagi. Yang paling bawah itu seharusnya, "Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."

    Takutnya nanti ada yang salah paham.

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah.. iya ya Mbak.. makasih sudah diingetin.. fatal banget emang kalo salah nulis ayat.. Insyaallah kedepan saya lebih ati2.. :)

      Delete

Adbox

@nabila_haqi