Sepi - Jelang Ramadhan (Part 1)




22 Mei 2017

Menanti sesuatu atau seseorang terkadang melelahkan


Ramadhan sebentar lagi menjelang, dan aku masih sendiri. Hidup sendiri, melalui malam sendiri hingga berganti pagi dan malam lagi, seterusnya.

Sendiri memang bukan nada yang pas untuk diperdengarkan. Mungkin lebih tepatnya sepi. Sepi yang mengambil semua orang dari sekeliling. Sepi yang membuatku nyaris tak bernapas. Aku merindukannya. Kapankah ia datang? 

Sepi lagi-lagi menjawab, tidak ada siapapun yang akan datang.

Menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam kesendirian memang mengerikan. Jangankan membayangkan, mengeja kalimatnya saja membuatku takut. 

Ketakutan ini terus menerus menggelayut. Hingga aku tersadar, jiwaku sedang rapuh.

Kesendirian pasti Berujung


Aku sadar sepenuh hati, bahwa pada akhirnya aku juga akan sendiri. Menghadapnya sendiri dengan pertanggung jawaban seberat gunung, bahkan lebih berat lagi.

Betapapun aku sedih. Akan lebih menyedihkan lagi memikirkan bangunan 2x1 meter sebagai tempat peraduan terakhir.

Lalu kucoba menerka-nerka, adakah kiranya yang bisa menyelamatkanku dari kesendirian?

Ada, ternyata.

Dikisahkannya, akan ada wajah elok berparas rupawan, datang menghampiri kita, menggamit kita, menemani dalam kesendirian. 

“Siapakah engkau?” akupun berharap kalimat itulah yang kuucapkan, kelak.

Caranya bertutur, merangkai kata, bahkan hati dengan hatipun berbicara,

“Aku adalah amalmu dulu. Buah dari kesabaranmu. Kesabaran dalam penantianmu.”

Oh Allah... Bahagianya diriku jika kau perkenankan dia menemaniku. Di sepanjang zaman, di sisa kehidupan. Hingga tiba masa sebenar-benar masa.

Akhir Kehidupan

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya)

Seperti dikutid dari republika.co.id,

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah, kelak saat malaikat maut datang, seorang berwajah tanpan akan hadir di tengah kepala orang yang menginggal itu. Lekai itu berbau harum. Menyedapkan dipandang.

Ketika ujain terberat bagi seseorang, yakni saat Mungkar dan Nangkir datang menanyai dengan penuh kekejaman, mereka berusaha memisahkan lelaki dari si mayat.

Lalu si tampan berkata,” Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”

(Himpunan Fadhilah Amal : 609)






















































































































































































No comments:

Post a Comment

Adbox

@nabila_haqi