Asal Usul Perintah Puasa

Ahad, 28 Mei 2017/ 2 Ramadhan 1438 H


"tak pernah sama sekali, ada kekata dan perilaku orang
yang bisa menjadi penentu kemuliaan dan kehinaan kita
dan tak seorangpun bisa menyakiti, tanpa kita mengizininya
maka bercahayalah dalam gelora untuk meraih semua pahala"


-Salim A. Fillah


"Puasa udah datang lagi. Duh, belum siap. Masih pengen bisa sarapan!" Ungkap salah seorang yang mengeluhkan hadirnya Bulan Ramadhan yang bersamaan dengan perintah puasa. 

Panas yang terik, angin sepoi teras hangat. Badan pun menjadi lemas, tenggorokan tersiksa karena kekeringan. Mungkin itulah oleh sebagian diantara kita. Kita harus berjuangan melawan keinganan untuk mencicipi seteguk air. 


Hal ini sungguh berbeda dengan kondisi para sahabat ketika datang bulan puasa.

Perintah puasa diturunkan oleh Allah tidak ujug-ujug. Titah ini  datang melalui suatu proses panjang.
Selama tiga belas tahun kaum Muslimin berjuang menghadapi tekanan, ancaman dan pemboikotan di kota Mekkah. Ini adalah proses terberat, dimana kita harus memilih syahadat dengan konsekunsi hidup dibawah penderitaan.

Belum lagi saat perintah untuk hijrah turun. Sungguh berat perintah itu bagi para sahabat. Betapa tidak, kita harus meninggalkan tempat tinggal yang selama ini membesarkan kita. Meninggalkan harta benda dan sanak saudara.


Diawali dengan Perintah Berperang

 

Proses pemantapan keimanan tidak hanya berhenti sapai disitu saja. Bukan setelah berhijrah lalu  kaum muslimin mendapatkan akhir happily ever after. Tidak. Proses itu masih lama.






Sebelum perintah puasa diturunkah oleh Allah pada bulan Sya'ban tahun ke-2 hijriyah. Ada perintah yang lebih besar dari itu. 

Yakni perintah untuk berperang, perang Badar. Perang terbesar sepanjang sejarah umat Islam. Dimana 300 pasukan Muslim harus melawan 1000 pasukan kafir Quraisy.

Bayangkan jika kita berada pada posisi para sahabat. Kita harus merelakan jiwa kita untuk Allah. Demi membela agama Allah yang ingin dimusnahkan oleh orang-orang kafir. Saking tidak mudahnya, kaum Muslimin terpecah menjadi dua golongan, yakni golongan orang yang pergi berjihad dan orang-orang yang tetap tinggal menikmati nyamannya kasur dan selimut. Kelak, mereka digelari dengan kaum munafik, orang-orag yang mendapat tempat terburuk di akhirat.

Tercantum pada Qs. Al-Anfal, bahwa telah jelas siapa kaum muslimin dan kaum munafik. Orang-orang beriman bukanlah mereka yang berputus asa. Mereka mempasrahkan segalanya kepada Allah. 300 melawan 1000 orang bukanlah hal yang mudah. Tapi mereka yakin bahwa Allah adalah Maha Besar, tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan dari Yang Maha Besar, Allah Azza wa jalla.

Perintah Berpuasa

Setelah melalu tempaan yang begitu dahsyat, barulah akhirnya perintah puasa turun. Maka ketika ada perintah Ramadhan, para sahabat menyambut perintah ini dengan penuh kegembiraan.

Allah SWT berfirman:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah: Ayat 183)

Bagaimana dengan kita? Sebaliknya? Jangankah bergembira, untuk mengimani surat Al Maidah ayat 51 saja masih belum mampu, atau tidak mau?

Lihat saja, ketika suara di pilkada Jakarta dihitung, lebih dari 40% suara berada pada Ahok. Padahal jumlah umat Islam di Jakarta lebih dari 80%. Artinya masih terlalu banyak umat Islam yang tidak mau mengamalkan ayat ini. 


Itu baru perintah yang cukup ringan, memilih pemimpin Muslim. Lalu bagaimana jika perintah untuk jihad turun, siapkah kita?

Puasa Proses Pemantapan Iman

"2 hijriyah ditambah 13 tahun di Madinah, jadi butuh 15 tahun pemantapan perintah puasa." 

Kata Ustadz Carlos menjelaskan dalam ceramahnya di Al-Ikhlas tadi.

Sehingga bulan Ramadhan adalah proses yang Allah siapakan untuk memantapkan keimanan kita. Sekarang, kita tinggal memilih, sami'na wa atho'na, atau sebaliknya.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang beriman, yang Allah tanamkan kecintaan pada hati kita dalam menjalankan seluruh perintahnya.










#RamadhanInspiratif
#Challenge
#aksara

6 comments:

  1. Teh, ini gimana caranya biar punya domain sendiri? Biar blogspotnya hilang hehe. Sama ini templatenya beli ya teh? Hehe baguss teh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk domainnya saya beli, harganya kisaran 50-100 ribu, jika ada promo bisa lebih murah lagi. Kalau untuk templatenya saya ndak beli kok, gratisan ini, hehe.

      Delete
    2. Gimana belinya? Prosesnya gimana ya huhu

      Delete
    3. Coba aja buka www.jagoanhosting.com. Kayaknya ada promo .com cuma 48K. Ntr ada panduannya, cuma kalo bisa dicari yg sama pemasangannya. Rada ribet masangnya soalnya.

      Delete
  2. Saya mau berpendapat aja. Yang bagian perintah berpuasa, mending contoh jangan penerapan surat al-maidah 51 soalnya kayak kurang mengena

    ReplyDelete

Adbox

@nabila_haqi