Mensyukuri Nikmat Sehat


Sejak ahad lalu (22 Januari) hingga hari ini saya ikut membantu menjaga bapak mertua yang sakit di rumah sakit. Di saat-saat itu, terbersitlah beberapa perenungan. Semoga tertuang hikmah yang dapat dipetik. Dalam renungan ini, saya kutipkan beberapa nasihat dari Rasulullah, para sahabat, dan berikut para ulama di generasi sesudahnya.

Saat saya melihat pasien berjejer disini, terbaring lemah. Mulai dari yang seusia SMA hingga bapak tua berumur 70 an tahun. Hati ini merasa ada syak. Lebih banyak nikmat yang terlalaikan, ketimbang mensyukurinya.

Kebetulan saya berada di poli paru. Jadi tiap detik, saya mendengar suara batuk bertubi-tubi dan bergantian. Ada lelah yang terdengar dari suara batuk-batuk itu.

Lihatlah betapa beratnya menjadi orang yang sakit. Waktu yang harusnya digunakan untuk beribadah, bekerja, bercengkrama dengan keluarga, semua tercerabut. Hartapun juga banyak terkuras. Sedangkan kita yang sehat, nikmat manakah yang akan kita dustakan?

Nikmat Terbesar


Sungguh satu hal yang banyak kita lalaikan, yakni nikmat sehat. Di saat sehat, banyak waktu terbuang percuma. Misal berjam-jam menghabiskan waktu di depan gadget. Bahkan hanya untuk melihat timeline. Astaghfirullah. 

Belum lagi menonton tv, apalagi yang ditonton adalah maksiat. Tilawah cuma selembar, kadang juga terlupa. Menunda-nunda sholat. Masya Allah, banyak sekali jika kita mau me-list kekufuran kita pada nikmat sehat.

Nabi sendiri pernah mengingatkan akan hal ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas) 

Sungguh meruginya kita. Saat banyak pasien memiliki keinginan yang sangat besar untuk dapat beribadah dengan nikmat. Justru kita sering lupa.

Ibnu Baththol mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Sungguh kita akan tertipu, jika nikmat ini kita lupakan begitu saja. Nikmat sehat ini sudah saatnya kita syukuri. Sebelum nikmat ini terambil. 

Malas dalam Ketaatan


Ibnul Jauzi menjelaskan lebih lanjut siapakah dia yang tertipu.

”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”

Jika kita ingin hidup bahagia, bukanlah sehat kuncinya. Saya ulangi sekali lagi, sehat bukanlah kunci kebahagiaan. Melainkan nikmat sehat itu terisi dengan berbagai hal yang bermanfaat. Beramal sholih yang mendekatkan diri dengan Allah ta'ala atau yang bermanfaat bagi orang lain.

Hal ini disampaikan oleh Ibnul Jauzi, 

“Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat, dialah yang betul-betul tertipu. Sesudah waktu luang akan datang waktu yang penuh kesibukan. Begitu pula sesudah sehat akan datang kondisi sakit yang tidak menyenangkan.”

Mulai dibuatnya tulisan ini, saya berpesan pada diri saya sendiri dan juga orang lain. Berhentilah berbuat maksiat kepada Allah. Jangan sampai Allah mengambil nikmat ini, karena kita menyia-nyiakannya. 

Setelah maksiat sudah ditinggalkan, saatnya kita bertanya, sudahkah yang kita lakukan ini bermanfaat? Jika tidak, mari kita hentikan. Mulai berkarya dalam rangka beramal sholih.

Semoga Allah memberikan kita rahmat dan kekuatan untuk mensyukuri nikmat ini.

"Allahumma ainni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatik. Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingatMu, mensyukuri nikmatMu, dan beribadah dengan baik"


Kutipan diambil dari:
https://rumaysho.com

Share:

1 comment:

  1. Bener banget mba, bermaksiat bukan hanya dalam persoalan besar aja tp kecil pun bs berdampak. tidak hanya menghasilkan dosa tp juga bs ke tubuh berupa penyakit. Beruntung bagi yg bs mengambil ibrahnya dan memperbaiki diri

    ReplyDelete