Menghadapi Media dan Kesombongannya




Saya terdesak dengan kalimat dari Sirikit Syah, dosen senior Stikosa AWS Surabaya dalam kolom opini Jawa Pos, "Pers memang harus independen dan objektif. Namun dalam keadaan darurat, pers berhak melakukan perlawanan."



Dalam dunia media kita sudah mafhum bahwa media memang menguasai masyarakat. Tapi ada pelajaran dari kisah tragis orang-orang islam yang terdholimi karena media. Sebut saja kisah Pak Dahlan Iskan yang kini berada di bui dengan kondisi memprihatikan. Padahal dokternya menyatakan ia bisa mati dengan kondisi fisik yang lemah karena transplantasi jantung.

Suatu kali Dahlan pernah dimarahi karena korannya tidak memuat berita paling memilukan dengan dibredelnya detik, tempo, atau editor. Meski ia mengatakan tak bisa berbuat apa-apa di zaman order baru, tapi rupanya ia tidak diam, ia justru menampung para wartawan yang gulung tikar.

Saya tidak akan membela dan memuji seorang Dahlan, toh saat lihat Jawa Pos di rumah tiap hari dengan hiasan wanita-wanita telanjang, membuat saya jijik dan marah. Tapi karena is seorang Muslim, maka tentu  hati saya juga ikut sakit dengan kondisinya hari ini.

Berpikir Kritis

Berpikir tentang media, kita memang harus selalu kritis. Karena media bukalah Al-Qur'an atau kitab para ulama. Ia hanya kumpulkan intrepetasi dan solusi dari manusia. Banyak berita hoak yang menyebar pada sekian banyak BC. Media dapat menampilkan dua fragmen : benar dan salah. Hanya dua.

Tapi bicara soal media, umat islam memang telah kalah besar. Dunia barat telah menguasai pasar media. Kita bisa lihat betapa hebatnya mereka memojokkan islam. Betapa seenaknya mereka menyebut umat islam sebagai segolongan yang nista dan hina. Meski jika dilihat dari mayoritas, saya tidak memungkiri, banyak orang yang hanya jadi follower bukan jadi leader.

Umat islam menang jika menguasai media. Menang jika dapat tampil di publik bahwa islam itu sangat luar biasa. Para blogger, jurnalis, atau penulis muslim pasti faham bahwa kita kadang terkoyak dengan keidealisan kita sebagai seorang Muslim.

Tuntunan pekerjaan tak lagi membuat kita menjadi seorang muslim yang lurus yang senantiasa memperbaiki iman. Bahkan banyak penulis yang menjual tulisan degan memberitakan hal-hal yang melanggar syariat dan memojokkan islam.

Saya bukan penulis atau jurnalis. Tapi dengan TIDAK diam dan melangkah, saya yakin bahwa seorang Muslim mampu tampil dengan islam yang benar dan kekuatan memiliki media yang besar.

Kita harus menghadapi media dan kesombongannya. Kita harus mampu menulis dengan menampilkan profil sebagai seorang Muslim yang baik. Hanya tuntunan dari Allah, yang membuat para penulis media menulis dengan energi positif. Menulis dengan hati yang lapang dan bersih. Bukan dengan kesombongannya menginjak-injak yang lain.

Media harus saya hadapi, dengan membawa sebuah komunitas pembelajar Bahasa Inggris di wilayah internasional. Bagaimana dengan Anda? Sudahkan bergerak untuk menghadapi media dan kesombongannya?


1 comment:

  1. Mereka juga cari makan Mbak,
    barangkali belum melihat ada cara lain mencari makan yang lebih barokah!.
    thank

    ReplyDelete

Adbox

@nabila_haqi