Review Quantum Writer-Bobby DePorter





Buku pertama yang membuat saya jatuh cinta pada dunia menulis adalah Quantum Writer karya Bobbi DePorter. Dulu saat seragam saya masih putih biru (sekarang pakainya celemek, hehe), Ammah membawa sepaket serial Quantum, yakni Quantum Reader, Writer, Note-Taker, dan yang paling fenomenal yakni Quantum Learner. Buku ini menjadi pegangan saya sebelum menulis apapun, hard news, esai, cerpen, bahka status sekalipun. Meski tipis, nyatanya teori yang disampaika oleh DePorter banyak dipakai oleh penulis-penulis internasional. Teori sederhana bernama PAK! Dengan PAK tulisan tidak hanya sekedar tulisan, namun menggerakkan yang memiliki nyawa yang mengajak pembaca larut dalam tulisan. 


Identitas Buku 

Judul: Quantum Writer-Menulis dengan Mudah, Fun, dan Hasil Memuaskan
Penulis: Bobby DePorter
Penerbit: Kaifa (Mizan Group)
Halaman: 76 Halaman
Terbit: April 2009

Pemuda Penginspirasi

Jarang sekali ada anak muda yang menulis dengan sistematis dan eksklusif. Meski memiliki latar belakang yang bagus dari sisi akademik, tetap saja untuk menulis 200 kata saja mereka kebingungan. Akhir dari kisah ini para pemuda hanya bisa menulis status yang pendek yang hampir kosong makna. Misalnya 

"Senangnya bisa kumpul lagi untuk makan di restoran gede favorit keluarga." 

Saat kita memiliki ilmu menulis, maka statuspun akan berubah menjadi tulisan kaya makna. Tulisan itu bisa berubah menjadi, 

"Berkumpul bersama keluarga adalah moment indah yang sulit terhapus dari ingatan. Hari ini, kami merangkai moment itu lagi, bersua bersama di sebuah tempat makan dengan desain ekslusif di Surabaya."

Dengan ilmu menulis kita bisa merubah gaya bahasa yang semulai berbau kesombongan (akhirnya banyak yang baper dan ngiri) menjadi menginspirasi lebih banyak orang untuk membuat quality time dengan keluarga. Indah bukan?

Hebat dengan "PAK"


Bagaimana ilmu menulis itu? Pertama adalah P (Pusatkan Pikiran). Hampir semua jurnalis akan menggunakan konsep ini setelah mendapatkan bahan tulisan. Dari semua bahan, baik transkrip dengan narasumber atau sumber lewat berbagai media, akan ditata menjadi sebuah mind maping. Memasukkan semua ide dalam map maping hingga detail terkecilnya akan memudahkan kita untuk tak kehilangan ide saat menulis.

Kedua adalah A (Atur). Semua ide yang berjejal indah dalam map maping akan ditata menjadi tulisan yang menarik dan sistematis. Tony Buzan, menurut sang penulis, membuat stategi ini untuk menggambarkan, menghubungkan, dan memperluas ide. Tambahnya, kini para penulis profesional memakai peta pikiran untuk menata dan menghubungkan apa yang ingin mereka tuliskan. 

Terakhir K (Karang). Ini memuat strategi terakhir saat draft kita dari hasil mind maping tadi telah jadi. Ternyata mengedit sebuah tulisan juga ada ilmunya, misal merubah kata memberi tahu menjadi menunjukkan, membuang kalimat klise, dan menjadi hebat dengan kritik dari orang lain.

Saat-saat jadi jurnalis kampus atau saat mengikuti berbagai lomba menulis, strategi ini selalu saya pakai. Di FIB tempat saya belajar, salah satu jurusannya yaitu Departement Sastra Indonesia. Disana perlu waktu minimal tiga setengah tahun untuk menjadi seorang ahli humaniora. Sedangkan untuk menjadi seorang penulis hebat kunci utamanya hanya menulis dan terus belajar. Tanpa mau belajar, seorang penulis hanya akan terpenjara oleh perasaan bahwa tulisannya lah yang paling keren. 

Dengan PAK kita tak lagi kebahisan ide, dan macet ditengah perjalanan menulis. Terus belajar dan menerima kritik akan jadi kunci untuk jadi penulis hebat. Happy Writing!

Nabila Cahya Haqi untuk Writing Club SMA-It Al- Uswah Surabaya.



No comments:

Post a Comment

Adbox

@nabila_haqi