ASSERTIVENESS ACCORDING TO ISLAM


Dalam kehidupan, assertiveness atau ketegasan merupakan bagian yang dipentingkan dalam menegakkan suatu peraturan. Kitapun telah sangat tahu akan hal tersebut. Saking vitalnya Rhenaldksali, seorang guru besar FE UI bahkan mengatakan dalam catatan yang dimuat sebuah koran bahwa  tanpa assertiveness, ikatan kan pupus. Assertiveness ditanam sejak usia dini dan dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.                                              
Dalam catatan ini, ia menyoroti kebudayaan masing-masing bangsa dalam menyikapi hal ini. Ada orang-orang yang pasif terlalu toleran, atau sebaliknya yakni orang-orang yang agresif (terlalu tegas,red) memicu konflik.

Catatan ini mengingatkan saya tentang budaya Indonesia. Jika dalam catatan ini ia mencontohkan negara-negara maju yang telah ditanamkan dengan baik asservative ini. Sangat berbeda dengan negara-negara yang belum maju alias berkembang seperti Indonesia ini. Atau contoh kecil misalnya pada suporter sepak bola yang sering membuat onar mengacak-acak kota, namun akhirnya mereka masih bisa tertawa riang tanpa beban, seperti pada berita di televisi yang saya tonton kemarin.  Dan masih banyak hal-hal lain yang menjadi cermin bahwa Indonesia adalah negara yang sangat tidak tegas, khususnya pada masalah-masalah kecil sekalipun, yang otomatis akan berakibat pada masalah masalah besar.

Dunia telah mengetahui bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama islam. Namun mengapa hanya dalam persoalan kecil seperti persoalan mengenai sikap ketegasan ini saja masyarakat yang boleh dikatakan mayoritas islam tidak becus jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang menerapka prinsip universal. Sehingga menimbulkan banyak pertanyaan pada agama islam itu sendiri : apakah memang islam bukanlah agama yang pantas dianut?

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqoroh 2:208)

Islam adalah agama yang universal. Tidak hanya mengajarkan manusia dalam hal ibadah, namun juga mencakup seluruh aspek kehidupan. Dalam ayat ini Allah menganjurkan menganjurkan orang-orang yang beriman kepada Allah (kaum mukminin) untuk masuk ke dalam islam secara keseluruhuan, keseluruhan dari ajaran islam yang mencakup seluruh petunjuk dalam bidang kehidupan yang diatur dalam islam.

 “Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali-Imron 3:20)
Dalam masalah ketegasan, sungguh islam telah memberikan porsi yang tepat sesuai dengan konteks permasalahan masing-masing. Islam memberikan petunjuk bagi manusia yang menerapkan islam dalam kehidupannya

“Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (QS. Al-Baqoroh 2:2)

Jika kita belajar tentang secara mendalam tentang islam, dalam Al-Qur’an telah memberikan peraturan yang menjadi petunjuk dalam menjalankan proses kehidupan manusia. Petunjuk-petunjuk itu harus dilakukan oleh manusia, jika tidak maka setiap perbuatan akan mendapat balasan.
Petunjuk-petunjuk inilah yang harus ditegaskan. Nabi Muhammad sebagai pemimpin dan teladan satu-satunya umat islam telah mengjarkan banyak hal dalam hal assirteveness ini, islam menganjurkan manusia agar memperhatikan hal-hal dimana kita harus benar-benar brtindak tegas, atau memahami betul apa yang terjadi sebenarnya, sebuah kebenaran.

Allati hiya ahsan
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl 16:125).

Sebuah artikel dalam sebuah media islam menerangkan, Allati hiya ahsan menagndung arti tidak merendahkan pendapat orang lain serta menunjukkan bahwa kita menghormatinya walaupun belum memiliki kesamaan pendapat. Dalam penerapan sikap tegas, seseorang harus menyampaikan pendapat yang diyakininya sebuah kebenaran dengan cara yang baik, billati hiya ahsan. Mencemooh, menghina, dan merendahkan orang lain sangat tidak dibenarkan islam dalam menyampaikan sikap ketegasan yang ingin kita terapkan.

Dalam aspek  yang mendasar, islam memberlakukan ketegasan penuh. Contoh kecil saat seorang anak yang telah burumur tujuh tahun orang tua harus menganjurkan anaknya melakukan sholat wajib yakni lima waktu, sedangkan ketika seorang anak telah beranjak sepuluh tahun, orang tua harus bersikap tegas dengan memukul anak dengan lidi jika anak enggan melaksanakan sholat. 

Jika kita belajar, kita akan menemukan banyak hikmah lewat ajaran islam. Lantas, apa yang mencegah kita untuk tidak menjadikan islam sebagai way of life.

No comments:

Post a Comment

Adbox

@nabila_haqi