Agar Tak Sekedar Mencintai (edisi revisi Kita dan Orang yang Kitra Cinta)



                 Mencintai orang lain adalah hal yang wajar dalam kehidupan kita setiap muslim. Ia menjadi penyejuk qalbu, pelipur duka dan tenaga pendorong semangat kita. Mencintai anak-anak kita menjadi penghapus lelah dan menghilang beban yang setiap hari kita geluti. Mencintai suami kita menjadi pasangan yang menguatkan dalam kehidupan kita. Atau mungkin mencintai teman-teman kita, yang canda tawanya benar-benar menyenangkan hati kita. Mencintai adalah hal unik dan luar biasa, yang terkadang kita sendiri lupa untuk memikirkannya.

 
“...dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS.Ar-Rum:21)
Seharusnya kita mencintai secara sadar. Mengetahui bahwa saat kita mencintai, hal itu akan menjadi sebuah siklus kehidupan yang akan terus berhubungan. Karena ternyata masih banyak diantara umat islam yang lupa untuk memahami salah satu anugerah ini. Dengan cinta, seseorang menjadi rela berkorban, rela tersakiti, atau bahkan ada pula yang rela menjadi gila hanya lantaran cinta. Terkadang banyak pula seseorang yang mencintai karena keinginannya sendiri, ia ingin mendapatkan banyak dari seseorang yang  dia cintai. Ia lupa bahwa hal itu justru dapat mengeksploitasi orang yang dicintainya.
Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am : 162)
Mencintai secara sadar berarti kita mengerti untuk siapa dan karena apa kita mencintai. Dalam ayat ini jelas bahwa hakikat seluruh kehidupan termasuk saat kita mencintai orang lain adalah hanya untuk Allah.   Bukan mencintai hanya sekedar mencintai, tanpa melakukan hal yang tidak berarti atau malah justru merugikan.
            Ketika kita mencintai anak-anak kita, karena menjadi penghibur kita, kemudian kita usahakan agar mereka menjadi anak-anak yang sholih dan qurrota a’yun (penyejuk pandangan), dan mengharapkan doa dari mereka. Maka yang harus kita sadari ialah seperti itulah sebenarnya yang diinginkan oleh orang tua kita. Mereka ingin kita mencintai orang tua kita agar kita mendoakan untuk kebaikan mereka. 


“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah : “Apa saja yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh:215)
Saat kita mengetahui dengan tepat mengapa kita harus mencintai, maka saatnyalah orang yang kita cintai mendapatkan kebaikan pertama dari kita. Ungkapkan rasa cinta kita berupa kebaikan-kebaikan untuk orang-orang tercinta, didahului dari orang yang berhubungan nasab dari kita. Memberikan apa yang menjadi hak-hak mereka yang ada pada diri kita. Orang tua kita misalnya, memiliki hak untuk kita perhatikan kebutuhan-kebutuhannya. Juga suami kita, anak-anak kita, dan saudara-saudara kita lainnya, harus kita sebarkan benih-benih kebaikan kita bagi mereka. Kemudian janganlah kita lupa pada orang-orang yang seharusnya juga mendapatkan bagian cinta dari kita, yakni anak-anak yatim, orang-orang miskin, para janda, dan orang-orang yang membutuhkan lainnya. Cinta kita ini jangan hanya sekedar untuk kesenangan kita saja, namun juga mencintai siapa-siapa yang sebenarnya harus kita cintai. Berupa ungkapan dari rasa cinta kita pada orang-orang yang kita cintai. 

Usaha inilah jalan mendapatkan kebaikan yang nyata. Karena keberadaan mereka inilah yang menjadi penyangga keberadaan kita. Tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat. Karena saat kita menanam benih-benih kebaikan pada orang yang kita cintai, itulah sebanarnya penyelamat kita di dunia dan kelak di akhirat.
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS. Al-Zalzalah : 7-8)
Seperti inilah seharusnya setiap muslim. Ketika ia merasakan cinta yang menyejukkan dan menguatkan kehidupan, maka ia akan menumbuhkan benih-benih kebaikan dari orang-orang yang dia cintai. Hingga setiap kehidupannya yang mengalir, tak pernah sia-sia dan terbuang dengan percuma.  (Wa’allohua’lam)
***

No comments:

Post a Comment

Adbox

@nabila_haqi