Pendar Cahaya di UPN

Di bawah temram lampu yang menghujaniku dengan  cahaya jingga berpendar kuning. Menawan, apalagi menjadi horizon saat alam di luar sana gelap gulita. Mewahnya cahaya itu tak dapat mengalahkan kesibukan otakku yang terus berputar. Lama berfikir akhirnya air mata itu menetes juga. Penghayatan dari dua hari di UPN membuat kami sadar, belum seberapa perjuangan kami untuk umat ini.
Sesaat setelah mengikuti speech contest di Cito, dengan dihadapkan beribu pengalaman berharga, kami langsung menuju ke UPN, tempat berlangsungnya seminar yang diadakan Permata Insani. Saat mengikuti awal materi yang telah terlambat, kami sempat terkatung-katung karena ketinggalan. Tapi…”Allohumma inni asaluka ilmannafiia wa rizqan thoyyiba, wa amalan mutaqabbala…”. Kupanjatkan doa dan niat suci untuk menuntut ilmu. Beruntung kami duduk di samping sahabat yang dermawan, menuntunku saat di landa kebingungan.
Hari pertama, kami di berikan hikmah luar biasa. Manusia memiliki kehendak bebas, nasib manusia ada di tangan manusia, namun Allah juga ikut andil menentukan. Malam larut dan berlalu.. Sayang beribu sayang jadwal tidak terlaksana dengan baik. Nikmatnya suasana syahdu yang kami rindukan, seperti kami dapatkan saat TA tidak kami rasakan malam ini. Jadwal qiyamullail tidak terlaksana.
Hari kedua, hikmahnya tak kalah luar biasa besarnya. Syahadat…Kami mencari makna syahadat yang sebenarnya. Ucapan yang selama ini kami anggap hanya diucapkan saja, kemudian selesai. Tidak, syahadat sebagai ikrar memiliki syarat-syarat yang harus dijalankan. Latar belakang, sasaran, tujuan, bahasa, isi, konsekwensi, dan konsisten, harus dijalankan agar syahadat ini syah, menjadikan kami benar-benar seorang muslim.
Setiap bintang bertabur mengiringi pengetahuan kami. Ia temani kami saat harus duduk berjam-jam di kursi kuliah itu. Terkadang kantuk menghalangi bintang itu menghiasi penghayatan kami, tapi…kami usir dan buang kantuk itu dengan air wudhu, karena kami yakin, itu syeitan. Kami yakin syeitan karena saat kami izin keluar forum sesaat setelah kantuk itu menenggelamkan kami dalam palung terdalam. Keluar ruang…kantuk itu seketika hilang…Tak lupa kami panjaatkan ta’awudz.
“Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syithan yang terkutuk.”
Sebenarnya panitia telah berusaha menghalau kantuk ini, dengan menbagikan berkali-kali permen. Tapi tetap juga ia menyerang. Bahkan ada teman berujar,
“Wah bisa-bisa sehabis seminar, gigi kita keropos semua, karena diberi permen terus menerus.”
Saat istirahat berlangsung, kugunakan manfaat itu baik-baik untuk tetap berdakwah. Sebut saja dia Lita, kawan dekat SMPku, Alhamdulillah kami terbalut dalam acara itu. Aku mengetahui saat ini dia dilanda krisis ketidaktahuan. Apalagi kalau bukan pacaran, dan pacarannya…Yah…hampir saja dia terjebak dalam lembah kesuraman. Sungguh dari awal aku kasihan dengan dia, mengapa hanya karena lelaki dia bisa memberikan cintanya, perhatiannya, bahkan menguras begitu banyak energi.
Aku meraskan dua hal, yang pertama kasihan dengan dia karena rahmat dan cahayaNya belum menerangi hatinya untuk lebih mencintai Allah daripada selainnya.  Kedua, aku merasakan rasa syukur luar biasa kepada Allah atas hidayah dan ilmu ini. Kami bisa berbangga karena hingga sampai detik ini, belum ada lelaki yang berhak mengaturku, menuntut cinta, bukan dalam balutan pernikahan. Ya, aku tak pernah ingin merasakan pacaran. Biarlah cintaku untuk Allah SWT, dan lelaki yang telah Allah pilihkan untukku kelak.
Saat istirahat, kami berbincang panjang, kesempatan emas karena ternyata dia telah putus dengan sang pujaan hatinya. Kujelaskan pentingnya menjaga hijab, dan kita dilarang untuk mengeksplor cinta kita, meski jatuh cinta itu wajar, bahkan nikmat dari Allah SWT. Akhirnya…makan siang memisahkan kita, ia berujar dalam,
“Terima kasih banyak sobat…”kata Lita. Semoga Allah melindungi sahabatku itu dengan dekapan cintaNya.
Pembelajaran berlanjut, mata dan fikiranku bangkit saat bintang-bintang hijau itu merangkul kami, dan pengetahuan kami. Bergelayut pada bintang-bintang itu sejarah-sejarah lama yang telah dibenamkan kebenarannya selama ini. Begitu banyak pengkhianatan yang dilakukan orang-orang pada islam ini.
Saat fajar benar-benar menghilang pergi. Kami mendengar kesaksian seorang pejuang penegakkan islam, yang tak lain tentor kami. Betapa dia harus keluar dari rumah, untuk dakwah mulia ini.
Air mata kami menetes…Sungguh Allah telah berikan apapun yang membuat kita tegak sampai saat ini. Di ruangan ini, saat hanya ada temaram lampu yang menemani kami. Tangan ini terus menari-nari memainkan kata-kata yang mengalir dari penghayatan kami.
Saksikanlah dunia…Saat kebenaran telah mendekap keyakinan. Pantang untukku menghalaunya lagi. Hari ini, 19 Juni 2011, sebuah pengahayatan besar antara kebenaran konsepsi takdir-nasib, dan memberikan selaksa makna pada syahadat yang telah kami ikrarkan, menepuk kami untuk bangkit, berjuang, untuk islam, menegakkan agama islam yang telah lama tertindas. Kumulai detik ini untuk perjuangan, hingga akhir nafas itu tercekat dan para mujahid menunggu di surga sana, takkan kuberhenti untuk berdakwah, berjihad, dan berjuang, untuk islam.
Ridhoi langkah kami Ya Rabb…TeruntukMu semua perjuangan ini.
Mbak Putri yang selalu membimbing kami…terima kasih.
Mas Ali yang selalu semangat untuk kebaikan adik-adiknya…terima kasih.
Semua tentor yang seharian menghaturkan bintang-bintang hikmah itu kepada kami…terima kasih.
Dita, Sarah, Rizka, Amalia, yang membantuku kami mengejar ketinggalan…terima kasih
Serta semua yang tak dapat kami sebutkan satu persatu…Semoga Allah membalas semua usahamu hingga semua bintang-bintang itu berpendar mengiringi kami. Selamat berjuang kawan-kawan…

No comments:

Post a Comment

Adbox

@nabila_haqi