Escaped to Eco Green Park Malang



Menurut Ibu Septi Peni, dalam Kulwap IIP yang diadakan pada hari ini, Selasa, 5 Desember 2018, komunikasi adalah sarana pendidikan bagi anggota keluarga. Ia berperan penting untuk menentukan apakah sebuah keluarga menjadi sakinah mawadah warahmah atau tidak.

Salah satu cara untuk menjalin komunikasi adalah dengan meluangkan waktu khusus 2-3 hari keluar dari zona kehidupan sehari-hari. Yup, istilah kerennya quality time bersama keluarga.

Saya merasakan sendiri betapa pentingnya quality time dengan keluar dari zona kehidupan sehari-hari. Selain terjalinnya kedekatan dengan keluarga, juga menambah refresh pikiran. Sehingga kita jadi lebih bersemangat saat kembali menjalani kehidupan sehari-hari.


Escaped to Eco Green Park Malang


Dalam rangka keluar dari zona kehidupan sehari-hari, selain tafakur alam, long weekend kali ini saya dan suami mengunjungi Eco Green Park di Malang. Ini kali kedua kami kesana. Pertama bersama teman-teman kantor suami, kedua kali ini bersama keluarga SD IT Ar-Rahmah Surabaya.

Sesuai dengan namanya, green park, mata kita dimanjakan dengan segala yang hijau-hijau. Bagi yang tinggal di desa mungkin pemandangan disini biasa. Tapi baru orang kota yang jarang melihat hijau-hijau, pemandangan disini benar-benar menyenangkan. 

Kita disuguhi berbagai pemandangan tumbuh-tumbuhan yang hijau, mulai dari tanaman hias yang menggantung, hingga hidroponik. 



Selain tumbuhan, ada juga berbagai hewan-hewan. Salah satu hewan yang mengagumkan adalah si ostric atau burung onta ini. Meski lebih tinggi dari saya, saya berusaha mendekat agar mendapat hasil jepretan terbaik.





Ada juga kambing dengan berbagai jenis. Semua hewan termasuk kambing-kambing dipelihara dengan baik, buktinya mereka gede dan gemuk-gemuk. Bahkan kita juga bisa lihat anak-anak mereka.


Di jam-jam tertentu juga diadakan drama teater yang kocak. Drama kali ini adalah tentang bajak laut yang berusaha menguasai daerah penduduk, dan para penduduknya diminta untuk membayar upeti. 




Di akhir-akhir perjalanan kita juga disuguhi pemandangan telur-telur burung yang super gede. Salah satunya telur ostrich ini. Disampingnya juga kita bisa melihat anak-anak burung yang seperti baru saja menetas. 







Setelah tiga jam berkeliling, akhirnya saya mengakhiri perjalanan dengan menonton bird show, sayang karena keasikan saya tidak mengambil gambarnya. Sekian perjalanan saya kali ini. See you in another journey. Jangan lupa bahagia! Hehe.



Share:

4 Hal yang Baru Saya Ketahui tentang Chicking



Di sebuah malam saat saya dan suami dengan liburan ke Plaza Surabaya. Sebuah banner besar menarik perhatian saya. 

Baliho besar di lantai satu itu mengumumkan bahwa akan segera dibuka tempat makan bernuansa Arab bernama "Chicking". Wah, sepertinya asik makan disini, pikir saya.

Alhamdulillah beberapa hari kemudian, tepat hari Selasa, 14 November yang lalu Allah menghadiahi saya makan di tempat istimewa ini, tempatnya segala makanan khas Arab. Senang? Pasti. 

Chicking: Resto Spesialis Masakan Arab

Saya tinggal di dekat kawasan Arab di Surabaya, yakni di kawasan Ampel (jalan Mas Mansyur dan Nyamplungan). So, sudah ‘wareg’ berbagai makanan arab. Mulai makanan favorit yakni kebab (dan kawan-kawan) hingga gule.

Bahkan tetangga saya bekerja di tempat penjualan gule khas arab. Terkadang beliau membawakan keluarga kami sepanci besar gule. Jadi lidah ini tak bisa lepas dari makanan-makanan Arab, hehe.

Dan... setelah disuguhi menu-menu istimewa Chiching, insting saya menangkap sesuatu yang berbeda. Ada rasa unik yang tidak dapat diungkap dalam tulisan, cieleh.

Baru buka langsung rame

Awalnya sih, saya berpikir sama saja dengan resto yang lain. Namun ternyata beda, feel-nya dapet. Apa sih yang bikin beda? Setelah mencoba makan disini, setidaknya ada 4 hal istimewa yang baru saya ketahui tentang Chiching.



1. Makanan yang disajikan semuanya adalah makanan Arab namun telah dimodifikasi untuk menyesuaikan lidah orang Indonesia.

Pertama kali masuk ke resto ini, saya pilih di salah satu sudut menghadap luar, karena saya suka lihat orang jalan saat makan, hehe. Pemandangan luar mall terlihat dari dekat. Apalagi jika kita memilih tempat duduk outdoor atau di lantai 2, suasana romantis langsung menyergap, hehe.Kesan pertamanya adalah: nyaman.

Tak lama setelah duduk, mas-mas datang menawarkan saya minuman, "Mau kopi atau teh?" Karena kopinya khas Arab, saya langsung tertarik. Ah, gimana sih rasanya kopi Arab, bikin penasaran, hehe. Ada rasa khas rempah-rempah. Bahkan ada biji-bijian juga didalamnya. Saya seruput, ndak lama akhirnya habis.


Menu favorit


2. Banyak orang yang pernah umroh datang lagi kesini untuk reuni lagi ketika di tanah suci.

Orang-orang yang habis umroh pasti pengen reuni dengan suasana Mekkah yang syahdu dan Madinah yang menyejukkan hati. 

Memang ya, gimana-gimana yang namanya umroh pasti ngangenin (padahal saya belum pernah umroh, hehe). Tapi kebanyakan mereka yang rindu itu akan lari ke chicking untuk melampiaskan rasa rindunya.

Eits, ini banyak Ini bukan saya yang bilang, namun pemiliknya sendiri, Pak Hengki Setiawan (Presiden Direktur PT. Ayam Top Dubai).

3. Tempatnya comfy, pas dipakai untuk nge-date (bareng suami), acara kumpul keluarga, hingga rapat.

Siapa sih yang enggak seneng nge-date? Siapapun pasti suka. Tapi nge-date yang saya maksud sama pasangan halal ya, kalo enggak bisa bahaya!  :)

Nge-date bareng pasangan dan keluarga pasti butuh tempat yang nyaman dan bikin betah berlama-lama. Dan Chicking lah tempatnya. Tempat duduknya aja enak banget, empuk!  (awas kalo bilang saya ndeso ya, saya asli Surabaya, kota! Bukan desa! Hehe)

Ditambah hawa dingin dari luar yang semilir. Mewah? Ya, cukup mewah. Saya jadi membayangkan pergi ke Arab, umroh, bermajelis taklim dan makan-makan di sana.


4. Insyaallah harga pas di kantong.

Saat posting di Instagram, salah satu sahabat bertanya,

“harganya gimana, Miss Nabila?”

Saya jawab murah dong, hehe. Dibandingkan resto-resto lainnya di Surabaya yang sekelas, Chicking masih tergolong murah. Bawa uang 50 aja, cukup untuk makan berdua. Kok bisa? Karenanya menunya beragam, tinggal disesuaikan dengan budget.


Well, jadi gimana? pada mau kesana? Gimana kalo barengan aja, sekalian meet-up, hehe. Tempatnya ada di Plaza Surabaya. Arek Suroboyo pasti ngerti kan? Yup, dulu namanya Delta Plaza, pas sebelahan dengan Monkasel (Monumen Kapal Selam).

So, sekian dulu review tentang Chicking. Semoga bermanfaat buat menambah wawasan tentang daftar tempat makan ngehits di Surabaya. See you! Wassalamu'alaikum.
Share:

Saat Mimpimu Hancur, Ingat 3 Hal Ini!



Saya sudah putus asa, waktu itu. Sebuah mimpi hancur berkeping-keping. Mimpi yang saya bangun sejak SMA hancur dan sempat akan saya kubur hidup-hidup. Mimpi itu sederhana, keluar negeri.

Awalnya mimpi saya membumbung tinggi. Dengan semangat menggebu saya bermimpi bisa kuliah di Al-Azhar Kairo. Mulai menghafal Al-Qur'an, belajar Bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama lainnya.

Kelak saya menyesal, sebab semua usaha yang saya lakukan hanya untuk dunia. Mungkin waktu itu saya bermimpi gegara nge-fans novel-novel Kang Abik, hehe.

Tak ayal jika mimpi ini terhempas angin begitu saja. Sebab keadaan orang tua yang kurang mampu mengharuskan saya kuliah gratis di sekolah negeri, mulai SD hingga SMA. 

Saat diterima di UNAIR, saya rajut lagi mimpi itu. Meski mimpi kuliah di Al-Azhar diturunkan menjadi, "yang penting keluar negeri", entah beasiswa short course atau sekedar jalan-jalan.

Tapi kisah seakan berakhir tragis, mimpi itu seakan mustahil, sebab hingga hari kelulusan kuliah tiba, kesempatan itu tak juga hadir.

Puncaknya, saya mengubah mimpi: tahun depan umroh. Sebab perlahan saya menyadari  bahwa mimpi untuk dunia itu hanya debu. Tak ada guna.

Maka saya niatkan ibadah. Saya katakan pada diri sendiri, saatnya berjuang lagi.

Saya berjuang mengumpulkan uang. Namun lagi-lagi, harus berujung pahit. Saat diskusi dengan suami waktu lalu, sebuah kesimpulan dinyatakan oleh suami. 

"Realistis sayang, jika umroh Ramadan tahun depan dengan uang segitu ya mana cukup." Begitu kira-kira pernyataan yang membuat saya ciut.

Harapan seakan  hancur dan saya tak peduli lagi. Biarlah Allah saja yang memutuskan. Ya, saya menyerah. Menyerahkan semua pada Allah.

Ah, dari ini saya belajar dari 3 hal yang selalu saya ingat:


1. Ingatlah Selalu Rahmat Allah.


Selasa, 14 November lalu saya bersama teman-teman blogger mengadakan acara di sebuah resto yang baru saja launching di Surabaya.

Saya tak membayangkan sebelumnya. Ternyata restoran bernama Chicking Indonesia  itu menjual makanan-makanan khas Arab! Mimpi-mimpi yang pernah serasa hancur itu berkelebat kembali.


Mimpi umroh dan keluar negeri itu Allah hadirkan dengan cara yang indah. Seakan jadi peringatan agar saya berubah, tak mudah putus asa.

Berkali-kali Allah berfirman dalam Al-Qur'an

"Jangan berputus asa dari rahmat Allah."

Jangan! Jangan!

Bahkan Allah mengancam dengan label mengerikan jika kita putus asa dari rahmat Allah.

Kita boleh saja gagal, merasa ingin putus asa. Ya, semua pernah mengalami hal itu.

Di titik terjenuh saya pernah membuat status di WhatsApp,

"May I give up?"

Lalu seorang sahabat berkata,

"Never! Do not ever give up!!!"


2. Hubungkan Semua Mimpi dengan Akhirat


Kata Allah, jika ada kebaikan sedikit saja dari dunia, maka Allah akan berikan itu semua pada orang yang beriman. Ya, sayangnya dunia ini hanya permainan dan senda gurau. Terlalu remeh untuk diperjuangkan.

Belajar dari mimpi saya keluar negeri, ada orang yang melepas jilbab setelah jalan-jalan keluar negeri. Buat apa? Justru jalan-jalan keluar negeri jadi musibah besar.

(Maaf, tak bermaksud menyindir siapapun).

Selanjutnya meski Allah belum mengizinkan saya umroh namun ternyata dari sanalah pertolongan itu datang. Kuncinya: hubungkan semua mimpi dengan urusan akhirat.


Pertolongan Allah datang tiba-tiba.


Malam itu saya bilang ke suami,

"Aku mau beli sepatu!" Kata saya, padahal saya masih punya dua sepatu yang layak pakai.

"Kenapa ndak ditabung uangnya? Buat umroh." Kata suami.

"Hopeless 😥" timpal saya.

"Kan masih bisa tahun depannya lagi!"

2019?

Iya.

Lah, kelamaan, batin saya.

Lalu sebuah kalimat berderet mengubah 180% derajat apa yang terjadi di otak saya.

"Kamu ndak mau aku ajak jalan-jalan yang jauh?" Katanya mengawali kalimat.

"Ke Malaysia. Aku udah carikan tiket promo. Insyaallah sebelum Ramadhan berangkat. Makanya kamu nabung buat uang saku disana ya?"

Air mata ini meleleh. Ya Rabb.... ini mimpi, kah?

Bertahun-tahun saya merajut mimpi ini. Dan Allah hadirkan dengan mudah dan indahnya. Hanya saat saya merubah mimpi keluar negeri dengan umroh.

Tabarakallah! Allahu akbar!


3. Yakin Keputusan Allah adalah Terbaik


Ah, saya tak pantas bicara soal ini. Sulit juga bagi saya mengamalkannya. Saya sering merutuki nasib, meskipun dalam hati.

Padahal justru impian itu hanya baik dimata kita saja. Ada Dia yang mengatur dan memelihara manusia. Dialah Allah. Sang perencana terbaik. Takdir baik selalu diatur bagi hambaNya yang selalu berprasangka baik.

Bukankah kita telah mafhum bahwa Allah tergantung perasaan hambaNya.

Jika keyakinan pada Allah tertancam kuat, maka Allah yang akan mengatur jalan itu. Menyiapkan skenario terindah untuk orang-orang yang beriman.

Sudah siap meraih mimpi, sahabat? Kini saatnya kita merajut mimpi, seperti kata A. Fuadi di novelnya Negeri 5 Menara:

MAN JADDA WAJADA!!!

Saat usaha maksimalkan sudah kita lakukan, tapi hasil seakan mengkhianati usaha, maka ingatlah rumus ini.


Tiga hal yang sederhana,

1. Ingatlah sealu rahmat Allah.
2. Bermimpi tentang dunia? Buat apa? Hubungkan semua mimpi dengan akhirat
3. Yakin Keputusan Allah adalah terbaik


Dengan izin Allah, mimpi itu akan terwujud atau diganti yang jauh lebih indah dari Sang Pembuat Skenario.

*Ditulis saat suami sedang terlelap, dan saya berjanji pada diri sendiri, akan jadi istri yang lebih baik.


Tulisan ini disupport oleh: Chicking Indonesia
Share:

Dear, Butuh Waktu Berapa Tahun Lagi?



Ruangan sudah penuh sesak. Saya mencoba mencari celah untuk bisa sekedar duduk dan melihat ke layar.

"Disini tak apa, itu masih banyak yang mau masuk ruangan ndak bisa." Kata teman SMA saya. Alhamdulillah Allah perkenankan untuk bersua lagi ditempat yang indah ini.

Ya, kami bersyukur masih dapat tempat duduk. Meski berada tepat dibawah layar proyektor. Jika memaksa melihat layar, mata akan sakit, yasudah banyak menunduk saja, untuk menulis."

Kalimat demi kalimat berusaha saya tuliskan. Hingga akhirnya sampailah pada sebuah kata,

"Butuh waktu berapa tahun lagi Anda untuk menghafalkan Al-Qur'an?" kalimat itu begitu menusuk dan menghujam ke ulu hati. Kalimat yang diucapkan seseorang yang ada di layar proyektor itu. Ya Rabb..

Tabligh Akbar Ust. Adi Hidayat


Hari itu, 10 November 2017 Ustadz Adi Hidayat berkunjung ke Surabaya. Satu-satunya kajian yang dikunjungi di Surabaya adalah Masjid Al-Irsyad. Jaraknya hanya sekitar 10 km dari rumah atau sekitar 15 menit jika naik motor.

Jamaah membludak. Jalanan sekitar Masjid Al-Irsyad macet. Bahkan sayapun kesulitan mau masuk masjid.

Setelah sholat Maghrib disana, tak lama Ustadz Adi memulai ceramahnya.

Mengangkat tema tentang Pahlawan membuat ceramah beliau berapi-api. Diawali dengan menjelaskan arti pahlawan dalam KBBI yang salah satu artinya adalah pemberani. Jadi cukup jadi pemberani untuk jadi pahlawan, menurut KBBI.

Lalu beliau menjelaskan semua hal, termasuk makna pahlawan yang harus disandarkan pada Islam, pada syariat. Benar, Islam mengatur semua urusan kehidupan, termasuk apa itu arti seorang pahlawan.

Dalam Hadits riwayat al-Bukhari, Abu Musa Al-Asyari menyampaikan: suatu kali Rasul pernah ditanya tentang seorang lelaki,
1. dia berjuang dengan penuh keberanian,
2. dia berjuang untuk menyampaikan nasionalismenya,
3. dia ingin dilihat perjuangannya, mana ya Rasul,

Yang termasuk dalam fii Sabilillah? Tanya orang itu.

Jawab Rasulullah, "siapa yang berjuang untuk menegakkan kalimat Allah, itulah yg disebut fisabilillah."

Hingga sampailah pembahasan pada perjuangan dalam jihad. Terdapat 3 perjuangan kepahlawanan yang disebut dalam Al-Qur'an:

1. Jihad fisabilillah dengan fisik
2. Menuntut Ilmu
3. Berjihad dengan harta

Saat menjelaskan poin kedua, Ustadz Adi berkisah tentang anak-anak di Palestina, saat mereka ditanyai,

"Siapa yang mau jadi presiden?" Tak ada satupun yang mengangkat tangannya. Pertanyaan dilanjutkan.

"Siapa mau jadi pemain sepak bola?" Hanya ada yang mengangkat tangan beberapa, dengan malu-malu.

"Siapa yang mau jadi dokter?" beberapa menjawab dengan angkat tangan. Namun pertanyaan terakhir membuat semua yang melihat haru.

"Siapa yang mau menjadi syuhada' (syahid di jalan Allah)?"

"Tidak ada satupun yang mengangkat tangan!" Kata Ustadz Adi terpotong.

"Tapi semuanya berdiri!!!" Kata Ustadz Adi. Ya, mereka semua berdiri sambil berkata masing-masing, "aku ingin menyusul ayah" ada yang mengatakan paman, dll.

Ah, malu diri ini.

Mereka inilah yang membuat kita malu. Mereka menghafalkan Al-Qur'an tiap hari, tak hanya menghafal, tapi juga belajar. Mereka faham betul keutamaan menjadi seorang syuhada.

Bahkan kata Allah golongan ini tidaklah mati, mereka hidup dengan kenikmatan dari Allah, yang jika seandainya mereka bisa berkata pada saudaranya yang masih hidup, mereka akan berkata, "Ayo susul aku, cepat! Disini lebih enak daripada di dunia!"

Bumi Palestina ini melahirkan banyak penghafal Al-Qur'an, bahkan negara dengan jumlah penghafal Al-Qur'an terbanyak adalah Palestina, kata Ustadz Adi.

Lalu beliau berkata dengan suara lantang,

"Lalu bagaimana dengan Anda, yang sudah hidup belasan dan puluhan tahun. Butuh berapa lagi waktu Allah beri untuk Anda menghafalkan Al-Qur'an"

Saya tak mampu menjawabnya. Malu, Ya Rabb. Sungguh terlalu banyak waktu yang sia-sia selama 21 tahun ini.

Mereka para pahlawan di Surabaya ini berjuang agar ada tempat yang nyaman untuk kaum muslimin sholat. Kini, masjid tersebar dimana-mana, tapi memenuhi panggilan adzan saja masih susah. MasyaAllah.

Hari ini, setelah berlalu hari pahlawan, saya mencoba berkata pada diri sendiri,

"Dear, butuh berapa waktu lagi untuk menghafalkan Al-Qur'an?"

Lalu aku akan berbisik,

"Tidak lama wahai diri!

Tidak lama lagi keberadaanmu di dunia ini. Jangan terus menerus lalai! Sudah cukup. Sudah waktunya untuk berubah!"

Share:

NGOBROL BARENG MPR SAMBIL BELAJAR ILMU KEBANGSAAN



Hari itu, Sabtu 4 November, sangat cerah, karena itu saya akan menghadiri sebuah event Blogger yang diadakan oleh MRP RI. Hari yang saya tunggu, karena saya masih jarang ikut eventnya para blogger, maklum masih newbie, Hehehe.

Dengan rapi saya datang menuju Fairfield Hotel di jalan Mayjen Sungkono. Setelah registrasi dan persiapan, akhirnya tepat pukul 9 acara dimulai, sudah dihadiri oleh Sekjen MRR RI, Pak Ma'ruf Cahyono.

Sebelum diskusi dimulai, kami menyempatkan diri untuk berfoto, hehe.



Setelah menunggu, akhirnya acara dimulai. Dibuka oleh Mbak Nurul, salah seorang Blogger yang kemarin mendapatkan undangan dari Google di Amerika.

Ya, salah satu keistimewaan acara ini saya bertemu orang-orang keren! Tak hanya Mbak Nurul, Beliau juga memperkenalkan 2 blogger yang mengharumkan nama Indonesia dengan mendapat undangan dari Google, yakni Mas Fahmi dan Mas Budiono.

Setelah MC membuka, acara dilanjutkan dengan diskusi yang dipimpin oleh Mbak Avi. Beliau menjelaskan bahwa acara ini tidak hanya dihadiri oleh blogger, namun juga netizen, influencer, buzzer hingga selebgram. 

Setelah Mbak Avi, dilanjutkan dengan Mas Adriyanto selaku Kepala Bagian Data dan Sistem Informasi MPR.  Beliau menjelaskan bahwa kita saat ini berada di zaman milenia, dimana berita HOAX tersebar dimana-mana. Oleh karenanya kita harus bisa memfilter berita yang masuk dengan referensi yang jelas.

Beliau mencontohkan saat banyak beredar BC tentang terjadinya gerhana matahari yang menyebabkan terjadi gelombang elektromagnetik, lalu meminta semua orang untuk mematikan HP pada pukul sekian, agar tidak terkena dampak berbahayanya. Menggelikan saat ternyata banyak orang yang percaya, ikut mematikan HP lalu menyebarkan berita itu. Miris memang.

Setelah Mbak Avi dan Mas Adriyanto, kini saat agenda utama, arahan dari Sekjen MPR RI, Pak Ma'ruf Cahyono. Beliau menyampaikan beberapa hal, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

Sebagai warna negara kita wajib untuk tahu akan 4 pilar kebangsaan,

1. Pancasila 
2. UUD 1945
3. NKRI 
4. Bhineka tunggal Ika

Selain itu beliau juga menyampaikan hal unik tentang gedung MRP. Dulu, gedung itu sangat sepi, bahkan terkesan menyeramkan sebab memang bangunan tua. 

Tapi kini semuanya berubah. MRP benar-benar menjadi rumah bagi rakyat. Siapapun boleh masuk ke gedung MRP, bahkan anak TK pun disambut dengan baik disana. Kegiatan yang menambah wawasan juga rutin diadakan, salah satunya adalah bedah buku yang diadakan rutin hampir tiap pekan.

Setelah selesai kami makan siang dan berfoto-foto di luar ruangan.



Semoga MRP juga semakin bisa menjadi tempat bagi aspirasi bagi masyarakat. Menjadi jembatan bagi rakyat untuk bisa didengar dan dengan itu semoga kehidupan rakyat Indonesia semakin lebih baik. Amiin. 

Demikian liputan acara Ngobrol bareng MPR yang menyenangkan dan pastinya menambah wawasan kebangsaan.
Share:

Menikmati Makan Malam di Bakmi Jogja Tegal Sari





Anda orang Surabaya? Atau sedang berkunjung ke Surabaya? Jika ya, sekali-kali cobalah untuk berkunjung ke rumah makan dengan konsep yang unik, yakni semua pegawainya berbahasa Jawa. Eits, bukan Bahasa Surabaya yang kasar itu ya, tapi Krama Inggil! This is it, Bakmi Jogja!

Rumah makan ini terletak di Jalan Tegal Sari. Padahal saya sangat sering lewat sini, tapi anehnya baru tahu kalau ada tempat makan yang unik ini.

Pertama kali masuk, kesan pertama yang saya rasakan adalah tempat makan ini sangat ramai. Padahal saya berkunjung bukan saat weekend.

Karena tempat duduk sudah hampir penuh, kami pilih tempat duduk di amben. Jadi bisa bersantai sambil selonjoran.



Kami pesan menu andalan yakni Bakmi Goreng dan Nasi Goreng Jogja. Harganya? Ya cukup merogoh kocek sih, seporsi seharga 21.000. So, jangan sering-sering kesini, cukup sekali dua kali aja, wkwkw.

Setelah menunggu sekitar 10 menit, menu Bakmi datang. Dari tampilannya, tak jauh beda dengan mie instan kuah, hehe. Rasanya menurut saya juga biasa.



Setelah Bakmi habis kami lahap berdua, gantian nasi goreng Jawa yang datang. Ya, menunya datang dengan bertahap.

Nah, kalo Bakmi tadi biasa saja menurut saya, menu nasi gorengnya menurut saya tidak biasa. Ada aroma bakar.

Well, kebanyakan yang makan disini adalah mengah keatas. Bahkan sampai ada turisnya juga.



Well, it is not bad. Silahkan dicoba jika ingin makan di tempat nuansa yang beda. Tapi.... Sssst... saya rasa seram melihat bangunan disini adalah bangunan tua jaman Belanda. Hihihihiii..

Sekian review dari saya, semoga bermanfaat.

Share:

Saat Orang Tua Tak Mengizinkanku Menikah



"Orang tuaku belum mengizinkanku menikah." curhat seorang muslimah. Alasannya klasik, masih kuliah.

Padahal sang perempuan sudah terlanjur cinta dengan seseorang, dan sang laki-lakinya pun rasa yang sama, dan siap untuk menikahi.

Kisah seperti ini, tak hanya satu. Banyak perempuan yang mengeluhkan tentang hal ini. Terhalang menikah karena Restu orang tua.

Orang tua seringkali menganggap anaknya belum dewasa. Sehingga jika sang anak meminta izin untuk menikah, orang tua justru akan mentertawakan anaknya,

"Arek cilik kok pengen rabi (anak kecil kok ingin nikah." begitu pikir orang tua.

Bahkan ada orang tua yang juga masih berat untuk melepas anaknya meski sudah menikah. Memintanya untuk tetap tinggal bersama mereka.

Tak hanya soal menikah, banyak orang tua yang juga melarang anaknya kuliah di luar kota, jauh darinya.

Persoalan selanjutnya adalah saat intervensi yang terlampau besar pada sang anak.

Ada sebuah kisah nyata yang dialami oleh nenek saya. Seperti biasanya beliau diminta untuk mencarikan jodoh bagi anak perempuannya. Persoalannya adalah sang orang tua meminta anaknya dijodohkan dengan orang yang berpendidikan, minimal S1, dan syarat lain yakni jejaka.

Tidak salah memang, namun intervensi orang tua ini justru membuat anaknya masih sendiri hingga umur yang cukup tua, kasihan.

Bagi seorang muslim dan muslimah yang belum menikah, ini ada permasalahan yang cukup pelik, namun bukan berarti lantas kita harus menyerah. Ada beberapa perjuangan yang harus dilakukan menghadapi permasalahan ini.

Buktikan Engkau telah Dewasa





Saat berumur 20 tahun, umi saya menawarkan saya untuk ta'aruf dengan seorang ikhwan. Setelah saya komunikasikan mengapa umi menginginkan saya menikah, ternyata Beliau kasihan melihat saya berangkat pagi pulang malam. Masya Allah, rupanya umi menginginkan anaknya diam di rumah bersantai, tanpa perlu memikirkan tentang biaya kuliah, dll. Padahal saya menikmati ini semua.

Tiap orang tua memang berbeda, tidak akan sama seperti umi saya. Namun hikmahnya, orang tua akan melihat sudah seberapa kita dewasa dan siap untuk menikah.

Jangan-jangan mereka tak mengizinkan karena kita masih menggantungkan orang tua. Masih suka bermalas-malasan dan mager siang dan malam.

Duhai muslimah, buktikan bahwa engkau telah dewasa. Mampu mengayomi dan mendidik adik-adik. Merapikan kamar dan membantu membereskan pekerjaan rumah, juga mampu membuat masakan enak. Tidak hanya sibuk dengan urusan luar rumah, namun juga menyelesaikan tugas kita di rumah, meski bagi kita remeh. Sayapun masih harus belajar tentang ini.

Wahai kaum lelaki, buktikan bahwa engkau siap menafkahi seorang wanita. Buktikan dengan kerja kerasmu dan uluran tanganmu untuk orang tua.

Ada beberapa perjuangan lain yang harus kita usahakan, diantaranya adalah menjalin komunikasi dengan orang tua. Namun akan penulis tuliskan di postingan mendatang.

Semoga Allah memudahkan urusan saudara-saudara kita yang sedang memperjuangkan cinta yang halal.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia.
Share:

Luka



Kemarin di grup Blogger Muslimah Indonesia, sang founder bercerita, ada seseorang yang bercerai dengan suaminya. Intinya ia stress, lalu seorang psikolog menyuruhnya untuk menulis. Kini lukanya itu sembuh karena ia terus menulis.

Satu hal yang saya pelajari, menulis adalah sebuah terapi menyembuhkan luka.

Di hari yang sama, saya juga belajar tentang luka dari seorang novelis internasional, Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara. Sebuah novel yang menyihir dunia dengan mantra ajaibnya, "man jadda wajada".

Hari itu saya hadir dalam bedah buku terbarunya, "Anak Rantau". Berkisah tentang seorang bernama Happy. Ia dipaksa oleh bapaknya pulang dari perantauannya. Kembali dari perjalananya menjelajah dunia menuju kampung dia dilahirkan, tanah Minang.

Belajar Memaafkan


Menurut sang penulis, novel ini memiliki misi agar pembacanya belajar banyak tentang memaafkan. Sebagaimana sebuah novel yang tidak boleh menggurui pembacanya, novel Anak Rantau ini adalah sebuah perjalanan seseorang untuk memaafkan. Karena akhirnya dia tahu bahwa semua orang pernah terluka, bahkan bapaknya sendiri juga pernah terluka.

Bisakah sebuah luka dimaafkan dan sekaligus dilupakan? Kata A. Fuadi harus, kita harus bisa memaafkan sekaligus melupakan kesalahan orang lain. Itu baru kata seorang manusia. Bagaimana dengan kata Allah?

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ  كَبٰٓئِرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَاِذَا مَا غَضِبُوْا هُمْ يَغْفِرُوْنَ
"dan juga (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf,"
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 37)


Mari kita lihat ayat sebelumnya, apa yang Allah janjikan bagi hambaNya yang senang memberi maaf?


فَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ  مِّنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ  وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى  لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

"Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,"
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 36)


Lihatlah, betapa Allah menjanjikan kenikmatan yang abadi bagi mereka yang beriman, bertawakal, menjauhi dosa, dan terakhir adalah mereka yang memaafkan. Bukankah kita selalu menginginkan kebahagiaan yang sejati? Ternyata salah satu resepnya sederhana, memaafkan.

Di ayat yang lain, Allah menjanjikan surga yang seluas langit dan bumi bagi orang yang memaafkan.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ  وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

"(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."

(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 134)

Mudah di Tulis Susah di Kerjakan


Ya, kamipun masih terus belajar untuk memaafkan. Sulit, memang. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa. Memaafkan tidak akan membuat kita rugi sedikitpun kan? Bahkan membawa luka dan dendam justru akan menyebabkan jiwa dan badan kita sakit.

Suatu kali saya pernah mengikuti ruqyah massal, penasaran awalnya. Terapi awal yang diperintahkan oleh sang Ustadz adalah memaafkan saudara atau siapapun yang pernah menyakitinya.

Dari sini kita belajar bahwa, luka akan membawa dampak buruk, salah satunya adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan jin. Na'udzubillah.

Akhirnya, memaafkan memang tak mudah. Namun menyimpannya dan mengingat-ingatnya justru akan menyakitkan. Oleh karenanya, mari kita beri maaf untuk semua orang yang pernah menyakiti hati kita. Siap?



Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia.
Share:

Menghadirkan Berkah dalam Keluarga



"Barakallahu Laka wabaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir"

Doa ini mengalir pada pasangan Muslim yang baru saja mengikut cinta dalam pernikahan.

Ya, doa ini ialah anjuran dari Nabi, bukan mendoakan,

"Semoga segera punya momongan." atau

"Semoga langgeng." Bahkan bukan pula

"Semoga Sakinah, mawaddah wa Rahmah" Sebab Sakinah mawaddah wa Rahmah telah terangkum dalam doa memohonkan berkah tadi.

Doa ini adalah sebuah harapan. Harapan terindah atas terikatnya dua insan.

Kebahagian di dunia tidak mutlak.

Mendoakan banyak anak misal, apakah lantas kita bisa menjamin dengan banyak anak pasangan ini akan hidup bahagia? Akan bertemu bersama lagi di surga. Banyak anak bukanlah sebuah ukuran sebuah kebaikan.

Kyai Al-Kholil, seperti dikisahkan oleh Ustadz Salim A. Fillah, memberi contoh tentang keluarga Nabi Ishak, sebanyak 10 anaknya nakal, mereka tega membuang Yusuf, adiknya sendiri kedalam sumur.

Namun, Allah tetap memberikan sebuah akhir yang indah, yang kita semua juga mengharapkannya, bahagia dunia dan akhirat.

Ya, saya pun percaya bahwa segala sesuatu akan 'happy ending' jika keberkahan ada dalam keluarga kita.

Semoga Allah menghadirkan berkah dalam keluarga kita. Amiin.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia.
Share: